"Bagaimana kalau besok malam?"
"Jangan bercanda. Kamu masih sakit Eunhyuk-ah. Aku akan menunggu sampai kamu sembuh kok."
"jinca ? Baiklah" Eunhyuk tersenyum lebar. Sungguh ia sangat senang mendengar tawarannya diterima oleh RiHyun.
DongHae yang memperhatikan mereka berdua sejak tadi menjadi tertawa sendiri. Akhirnya mereka bisa akrab juga.
"ada apa donghae ? Kenapa kau tertawa sendiri ?" tanya RiHyun heran. Ia sudah memasang tampang curiga melihat sahabatnya itu –DongHae- tertawa sendiri. Pasti ada sesuatu yang menurutnya terlihat lucu. Tapi, apa yang lucu ?
"Biasa Ri, Donghae memang suka seperti itu sejak kecil. Abaikan saja dia hehe" jawab Eunhyuk mantap.
Eunhyuk dan Donghae memang sudah berteman sejak kecil, tak heran kalau Donghae tau segalanya tentang Eunhyuk, begitu pula sebaliknya. Seperti yang barusan. Eunhyuk yakin kalau DongHae bersikap seperti itu, pasti dia bermaksud jahil kepadanya atau mungkin kepada RiHyun. Apapun itu, Eunhyuk tau kalau ia tidak bermaksud buruk. Ia pun sudah menganggap DongHae seperti saudaranya sendiri. Bahkan bisa dibilang, DongHae lebih mengetahui akan dirinya daripada kakak perempuannya sendiri.
"Aigoo, enak saja. Aku tertawa karena melihat keakraban kalian itu. Akhirnya kalian bisa akrab juga. Aku jadi berpikir sepertinya kalian memang cocok." Jawab DongHae dengan senyum jahilnya.
"Jincaeyo??" tanya EUnhyuk dan Rihyun bersamaan. Mereka berdua pun saling berpandangan dan tertawa. Sebenarnya mereka tertawa bukan karena kejadian tersebut lucu untuk mereka, tapi mereka tertawa karena untuk menutupi rasa canggung sekaligus malu diantara keduanya.
"Kalian tahu, aku tambah yakin kalau kalian itu memang cocok." DongHae berbicara kembali. Kali ini, ia semakin mantap kalau mereka itu benar-benar cocok untuk jadi sepasang kekasih.
"Gomawoo, tapi sepertinya itu tidak mungkin. Eunhyuk sudah ada yang punya. Yaitu Hyohyun. Benar bukan ?" jawab RiHyun asal. perfect. Kenapa ia bisa-bisanya berkata seperti itu ?
"What ? Aku dan hyohyun hanya brteman riHyun-ah." jawab Eunhyuk datar. Aiiish.. Ini benar-benar sangat mengesalkan. Mengapa RiHyun harus menanyakan hal itu ? Apakah RiHyun tidak tahu kalau selama ini yang disukai oleh dirinya adalah dia, bukan Hyoyeon. Apakah ia terlihat sangat dekat dengan Hyoyeon sampai-sampai ia berfikir kalau ia menyukai Hyoyeon? Yang benar saja.
"Mianhae, apakah hal itu mengganggumu?" tanya RiHyun dengan tampang memelas. Ia merasa sepertinya Eunhyuk tidak suka dengan perkataannya. Semoga ia tidak marah, batin RiHyun.
"Gwencana. Hanya saja, aku kurang merasa nyaman.” EUnhyuk ingin sekali berteriak kalau YA! Ia memang merasa terganggu. Tapi bukan ia tidak suka dengan RiHyun, ia kesal mengapa RiHyun begitu tidak peduli dengannya. Pikirannya mulai kacau.
"geuraeyo. Kalau begitu aku pulang dulu ya. Annyeong Eunhyuk-ah. Annyeong DongHae-ah"
"hyun-ah, apa kau pulang sendiri ? Biar kuantar saja." tawar Donghae tulus.
"Anniyo. Aku bisa pulang sendri kok hehe."
"Aku setuju dengan DongHae, bgaimana kalau kamu mengalami hal seperti yang kualami hari ini?" timpal Eunhyuk. Untuk beberapa saat ia melupakan kekesalannya barusan. Percuma saja ia kesal, RiHyun pun tidak pernah tahu akan hatinya. Haaaah,- apakah ini yang namanya cinta bertepuk sebelah tangan ? Eunhyuk berkata dalam hati. Ia merutuki dirinya sendiri.
"eum.. Baiklah."
*
Eunhyuk duduk termangu di sebuah taman dekat pusat kota. Sepertinya ia sedang menunggu seseorang. Eunhyuk bukanlah tipe orang yang sabar menunggu tapi kali ini ia benar-banar sabar menunggu seorang tersebut. Sesekali Ia terlihat gelisah dan cemas hingga membuat orang di sekitar taman tersebut memandanginya dengan tatapan tidak biasa. Sudah hampir 1 jam ia duduk di bangku tersebut sendirian tanpa ada yang menemani. Tak lama kemudian, ia dihampiri oleh 2 orang gadis kecil berumur kira-kira 10tahun yang ternyata adalah penggemarnya. Mau tak mau ia harus melempar senyum untuk menjaga image-nya terlihat baik di depan gadis-gadis itu. Salah seorang gadis kecil tersebut memintanya untuk menandatangani boneka yang dibawa oleh temannya. Tanpa pikir panjang, ia pun segera menandatangani boneka tersebut.
“Eunhyuk-oppa. Apakah kau sedang menunggu seseorang ?” tanya gadis yang membawa boneka itu malu-malu. Nada suaranya terdengar sangat lugu dan menggemaskan.
Mendengar ucapan gadis tersebut, Eunhyuk pun merasa bersalah. Harusnya ia tidak boleh dingin terhadap mereka. Ia pun menjawab pertanyaannya.
“Ne. Eunhyuk-oppa sedang menunggu teman spesial Eunhyuk-oppa disini.”
“Pasti itu pacarnya Eunhyuk -oppa ya ?”
“Eum.. Mungkin.” Jawabnya ragu. Ia ingin tertawa mendengar ucapannya sendiri. Berani sekali ia mengatakan hal itu yang sudah jelas kecil kemungkinannya.
“Pasti cantik ya ? beruntung sekali ya unnie itu..” tanya gadis yang satunya pada Eunhyuk.
“mm.. Menurut Eunhyuk-oppa. Dia itu sangat manis dan..” Eunhyuk berkata kepada gadis itu sambil menatap langit. Langit sore itu indah sekali, dengan warna biru muda dihiasi warna oranye dari matahari yang masih bersinar. Angin pun bertiup lembut, memberikan kedamaian di taman tersebut. Taman itu memang cukup unik dan strategis dan juga merupakan satu-satunya taman di dekat pusat kota yang sering dikunjungi. Taman itu bukanlah taman yang paling bagus yang pernah ia temui, bukan tempat yang paling romantis juga untuk dijadikan tempat kencan, tapi ia sangat menikmati keindahan alam yang didapat di taman ini di kala sore hari. Hal ini yang membuat ia memutuskan bertemu dengan RiHyun untuk pergi makan parfait di tempat ini, namun sayangnya RiHyun belum datang juga. Atau mungkin ia tidak datang ?
“dan apa Eunhyuk-oppa?” gadis itu membuyarkan lamunannya dan ucapannya yang masih ia pikirkan.
“Dan.. baik hati.” Mungkin kata ‘baik hati’ cukup untuk mendeskripsikan RiHyun. Pikir Eunhyuk.
“Apakah Eunhyuk-oppa ingin berkencan dengannya ? Oppa terlihat rapih sekali, seperti mau tampil di atas panggung.” Kata-kata yang meluncur barusan seolah-olah menusuk Eunhyuk sangat dalam. Apa iya ia terlihat rapih ? Padahal ia telah mengganti pakaian yang sebelumnya yang lebih formal. Sepertinya aku berlebihan.
“Anniyo. Kami hanya ingin membicarakan tugas kuliah kami.” Tukas Eunhyuk.
Lalu, kedua gadis itu pun pergi meninggalkannya sendirian. Eunhyuk berharap hari ini ia dan RiHyun bisa pergi bersama, meskipun hanya makan parfait saja sih. Tapi itu sudah cukup untuk awal hubungan mereka.
Hari pun semakin sore namun RiHyun tidak kunjung datang. Eunhyuk terlihat kecewa sekali mengetahui hal ini. Salahnya juga tidak membawa HP dan menghubungi RiHyun. Ia pun memutuskan untuk pergi meninggalkan taman dan pergi ke toko buku. Yap! Ia memang termasuk kategori orang suka membaca buku, terutama komik. Ia sangat meyukai komik, terutama komik One-Piece sampai-sampai di rumahnya, ia mempunyai 1 lemari yang khusus berisi buku dan komik.
Matahari masih memancarkan sinarnya dengan terang, tapi Eunhyuk memutuskan untuk pergi. Ia melihat ke segala arah tapi tidak ada tanda-tanda keberadaaan RiHyun. Rasa frustasi pun menghampirinya. Ia kecewa. Sangat kecewa. Acaranya dengan Ri Hyun gagal begitu saja tanpa ada alasan.. yang pasti ? Terang saja, ia tidak membawa alat komunikasi apapun sehingga tidak bisa menghubungi RiHyun.
“Eunhyuk-ah !!” teriak sebuah suara dari arah timur. Ia mengenal suara tersebut dan langsung mencari dari mana suara tersebut. Terlihat seorang gadis berpenampilan rapih, memakai dress panjang selutut berwarna hijau daun. Rambutnya panjang terurai. Ia langsung mengenali gadis tersebut.
“Hyoyeon ? Hai.” Tanya Eunhyuk dengan nada kecewa. Kupikir Rihyun.
“Sedang apa kau disini ? tumben sekali.” Tanya Hyoyeon riang.
“Anni.. Aku hanya sedang menunggu seseorang. Kau sendiri, kenapa kau bisa ada di sini ?”
“Aku baru saja bertemu dengan seseorang yang menurutku spesial.”
“Jinca ? siapa ? Kau tidak pernah memberitahuku.” Tanya Eunhyuk penasaran. Hyoyeon salah satu temannya juga. Sudah lama ia berteman dengannya, khususnya semenjak mereka satu entertainment. Ia sudah menganggap Hyoyeon sebagai sahabatnya –selain DongHae yang dijadikan teman curhatnya juga mengenai RiHyun.
“Aku tidak mau memberitahumu. Nanti saja. Kau bilang ingin bertemu seseorang ? Siapa ? RiHyun ?” tanyanya balik.
“Geuraeyo. Tapi sepertinya ia tidak datang. Molla.” Ia mengangkat bahu menunjukkan bahwa ia sangat kecewa sekaligus sedih.
“sabar yah! Apa kau sudah menghubunginya ? Mungkin saja ia ada urusan mendadak yang tidak bisa ia tinggalkan ?” tanyanya lagi. Hyoyeon tidak tega melihat temannya yang satu ini sedih, apalagi kalau mengingat Eunhyuk sangatlah cengeng. Namun, dibalik itu semua ia tahu kalau Eunhyuk sangat bisa diandalkan.
“Boleh kupinjam ponselmu ?” tanya Eunhyuk dengan semangat. Hyoyeon pun segera mengambil iPhone-nya dan memberikannya pada Eunhyuk.
“Memang kau tidak membawa ponsel-mu ? Tumben sekali.” Eunhyuk hanya menganggukan kepalanya. Ia terlalu sibuk menekan angka yang merupakan nomor telepon RiHyun. Belum sempat ia menelepon RiHyun, Hyoyeon kembali bicara.
“Hei, Eunhyuk-ah. Sepertinya kau tidak perlu menelepon. Yeoja yang kau tunggu sudah datang.”
Eunhyuk pun mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Hyoyeon. Terlihat RiHyun yang datang dengan napas tersendat, sepertinya RiHyun habis lari-lari. Seyum lebar pun merekah dari bibir mungil Eunhyuk.
RiHyun datang dengan penampilan yang sedikit berantakan namun ia segera membenahi rambutnya yang terurai cukup panjang. Ia memakai celana jeans panjang dengan baju motif bunga-bunga yang tidak berlengan dan sebuah tas kecil yang digantungkannya di lengan sebelah kanan.
“Mianhae, aku terlambat.” RiHyun bicara pada Eunhyuk dengan napas yang masih tersendat. Ia memegang dadanya sendiri untuk menetralkan napasnya yang masih tersendat. Tiba-tiba saja Eunhyuk datang menghampirinya dan mendekapnya dengan erat. Sangat erat. Sampai-sampai napasnya menjadi sesak lagi. Namun ia membiarkannya.
Omo! Apa yang dia lakukan ? Ia memelukku ? Aku harus bagaimana sekarang ? Ia berkata dalam hati. Lalu sebuah senyum merekah di bibirnya.
Bagaimana ini ? bagaimana kalau ia mengetahui kalau detak jantungku sangat tidak karuan sekarang ? Pasti sekarang aku sudah ketahuan.
RiHyun terpaku, masih tidak bisa melakukan apa-apa. Ia senang, tentu saja. Tapi ia sedikit takut kalau saat ini perasaannya terhadap Eunhyuk akan ketahuan. Entah kenapa, tapi ia memang masih tidak mau mengakui kalau ia memang menyukai Eunhyuk.
Semoga saja Eunhyuk mengira kalau detak jantungku yang tidak karuan ini karena tadi aku habis berlari. Semoga saja.
Eunhyuk masih mendekapnya. Hyoyeon yang melihatnya tersenyum kecil ke arah RiHyun. Ia pun segera melepaskan diri dari Eunhyuk yang berada dihadapannya. Perlahan, Eunhyuk pun merenggang dan menjauhkan diri dari RiHyun.
“Kupikir kau tidak akan datang.” Eunhyuk mulai bicara pada RiHyun dengan tampang malu-malu. Ia menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Ia pun menyunggingkan senyum kepada RiHyun yang segera dibalas olehnya.
"Mianhae Eunhyuk-ah telah membuatmu menunggu lama. Tadi aku harus menyelesaikan kerja sambilanku dulu." RiHyun menjelaskan kepada Eunhyuk dengan nada ragu. Ia tahu, ia sudah sangat keterlaluan telatnya, sudah lebih dari 1 jam ia telat dari jam yang telah ditentukan dan HyukJae masih menunggunya. Sungguh ia sangat beruntung.
"Gwencana. Sebaiknya kita pergi sekarang saja, sudah sore." Jawab Eunhyuk. Saat mereka ingin beranjak dari tempat mereka berdiri, tiba-tiba saja Hyoyeon memotret mereka berdua dengan kamera digital yang ia bawa di tasnya. Sontak, Eunhyuk dan RiHyun pun terkejut dan menghampiri Hyoyeon.
“Hyoyeon. Apa yang sedang kau lakukan ? Jahil sekali.” Eunhyuk bertanya pada Hyoyeon yang hanya dibalasnya dengan sebuah senyum yang lebar.
“Anniyo. Aku hanya sedang memotret adegan sepasang kekasih yang kebetulan backgroundnya juga bagus. Jadi, ya kupotret saja.”
“Hei, kami bukanlah sepasang kekasih.” Timpal RiHyun.
“Ups. Memang bukan sepasang kekasih, tapi sebentar lagi akan menjadi sepasang kekasih.” Jawab Hyoyeon tenang. Ia pun menunjukkan hasil fotonya kepada mereka berdua.
Benar saja, hasilnya memang bagus. Eunhyuk dan RiHyun terlihat berhadapan dengan background mereka sinar matahari yang masih memancar dan kiri-kanan mereka bungan taman yang masih mekar tetapi agak layu dan sebuah kursi taman panjang di pojok bawah foto.
“Wow. Bagus juga. Ternyata kau berbakat juga menjadi fotografer Hyo.” Komentar Eunhyuk kepada Hyoyeon.
“Gomawoo Eunhyuk-ah. Kalau begitu aku pergi dulu. Eh, ponselku Eunhyuk. Kembalikan hehe.” Jawab Hyoyeon mantap, ia pun meninggalkan mereka berdua.
“Hm, kita pergi sekarang ?” ajak Eunhyuk kepada RiHyun.
“Ne” ia pun menyunggingkan senyumnya kepada Eunhyuk. Baru saja ia berpikir yang tidak-tidak mengenai Eunhyuk dan Hyoyeon. RiHyun melihat sepertinya mereka berdua akrab sekali. Rasa iri pun muncul dalam diri RiHyun. Ia pun menghela napas. Eunhyuk yang melihat raut wajah RiHyun yang muram mencoba menjelaskan yang baru saja terjadi.
“Hyo itu teman dekatku. Aku sudah menganggapnya seperti adik sendiri. Jadi, mana mungkin aku menyukainya.” Eunhyuk membuka percakapan antara drinya dan RiHyun. Ia pun melempar senyum kepada RiHyun.
RiHyun memandang Eunhyuk. Ia melihat senyum yang tersungging di wajah tampannya itu. Ia mengangguk dan membalas senyumnya.
“Ne. Aku akan mengingatnya.” Jawab RiHyun. Rasa lega pun menjalari perasaan RiHYun. Kini, ia merasa tenang.
*
Mereka membeli parfait di sebuah toko dekat taman tersebut dan berjalan mengelilingi pusat Kota. Banyak sekali hal yang mereka obrolkan mulai dari kegiatan masing-masing sampai cerita masa kecil mereka. Tanpa sadar mereka pun jadi semakin dekat. Hal itu terlihat jelas saat RiHyun tertawa senang tiap kali mendengar humor yang dibuat oleh Eunhyuk. Eunhyuk pun terlihat ikut tertawa tiap kali RiHyun tertawa.
Wajah Rihyun terlihat sangat bahagia, sepertinya ia sangat senang bisa jalan bersama Eunhyuk meskipun hanya keliling kota dan bercerita akan banyak hal. Bahkan, Eunhyuk dengan jahilnya membuat humor tentang siapa saja yang mereka berdua lewati selama mereka berjalan, dan lagi-lagi hal itu berhasil mebuat RiHyun tertawa senang. Aku harap aku bisa membuatnya merasa nyaman. kata Eunhyuk dalam hati.
Begitu pula dengan RiHyun, ia juga berusaha menceritakan hal-hal apa saja yang menurutnya menarik (hal ini dikarenakan RiHyun yang tidak pandai mebuat humor) dan sebisa mungkin ia bersikap tidak canggung.
Semoga ini menjadi awal yang baik untuk hubungan kami ke depannya, batin RiHyun.
Sepertinya Eunhyuk akan menjadi orang kedua yang tau akan aktivitas dan kesukaan RiHyun setelah sepupunya, Hwang Min Young. Seperti ia yang sangat menyukai boneka sapi dan domba, juga ia sangat menyukai warna biru dan ia juga bercerita tentang sulitnya belajar dan berbicara bahasa Korea waktu ia pertama kali datang kesini. Bahkan mengenai hal ini pun, DongHae tidak banyak tahu.
Tidak terasa, mereka berdua pun sudah sampai di depan flat-rumah yang didiami RiHyun dan sepupunya, Min Young. Eunhyuk pun pamit kepad RiHyun dan meninggalkannya.
“Eunhyuk-ah..” panggil RiHyun sebelum sempat Eunhyuk melangkah pergi meninggalkan rumahnya.
“Ne ?” Eunhyuk pun kembali menoleh ke arahnya.
“Terima kasih ya untuk hari ini.”
“Sama-sama.” Kemudian ia berjalan meninggalkan RiHyun. Setelah beberapa langkah, ia kembali berlari menuju RiHyun yang masih berdiri di tempatnya.
“Ada ap..” sebelum RiHyun sempat menyelesaikan kalimatnya, Eunhyuk berlari ke arahnya dan seketika memeluknya dengan erat. Untuk kedua kalinya. Hal ini membuat RiHyun sangat kaget sekaligus senang, Eunhyuk berhasil untuk kesekian kalinya membuat jantung RiHyun berdebar sangat kencang.
Speechless. Mungkin kata itulah yang dapat menggambarkan keadaan RiHyun saat ini. Ingin sekali ia memeluk Eunhyuk juga namun ia tidak punya cukup keberanian untuk mengangkat tangannya dan membalas pelukan Eunhyuk.
“Aku..” EUnhyuk mulai bicara. Ia sengaja menggantung kalimatnya agar tidak ketahuan kalau ia sangat gugup saat ini. Ia pun memejamkan mata dan merasakan angin menerpa mereka berdua. Ia sudah tidak tahan untuk menahan perasaan sukanya terhadap RiHyun. Ingin sekali ia mengatakan Aku menyukaimu. Sangat Menyukaimu.kepada RiHyun, tapi ia tidak jadi mengatakannya.
“Waeyo?” tanya RiHyun penasaran. Ia sangat berharap kalau Eunhyuk mengatakan kalu ia menyukainya, lebih dari sekadar teman.
“Aku.. sangat beruntung mempunyai teman sebaik dan semanis kamu. Terima kasih juga untuk hari ini.” Jawabnya dengan pelan. Ia tidak mau ada sedikitpun kesalahan saat ia berbicara kepada RiHyun.
RiHyun memberanikan diri untuk memeluk Eunhyuk, bukan karena ia senang melainkan karena ia merasa patah hati sekali. Ternyata Eunhyuk hanya menganggapku sebagai teman, tidak lebih. Bodoh sekali aku menganggap ia tertarik padaku, padahal sedikitpun tidak.
Tanpa sadar ia pun menitikkan air matanya, ia merasa sedih, sakit dan.. patah hati ? Ia pun segera menghapus air matanya dan kembali memeluk Eunhyuk. Sebagai seorang teman.
“Eunhyuk-ah, aku pun sangat beruntung mempunyai kamu sebagai temanku. Sudah malam nih. Sebaiknya kau pulang.” Ia melepaskan pelukannya. Memasang sebisa mungkin senyum untuk menghiasi wajahnya dan hatinya yang sebenarnya sedang hancur.
“Ne. Annyong higesseyo RiHyun-ah. Smeoga kau memimpikanku.” Eunhyuk pun mencubit hidungnya dan tersenyum lebar. Senyum yang khas dari seorang LeeHyukJae, anggota Super Junior yang disukai banyak wanita. Harusnya ia merasa senang karena belum tentu jutaan wanita di luar sana mendapat kesempatan seperti ini. Ya harusnya.
“Annyong higaseyo.” Kemudian, Eunhyuk pun pergi menghilang dari hadapan RiHyun. Ia pun masuk ke dalam rumah.
Tanpa ia sadari, ada seseorang yang memperhatikan mereka sejak mereka pergi tadi sore. Orang itu terus memperhatikan setiap hal yang telah mereka lakukan selama mereka pergi bersama. Entah apa tujuan orang itu, namun terlihat sekali kalau dia sangat tidak menyukai kebersamaan mereka.
Tapi apa alasannya ?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar