PS : cerita ini gue dapat dari notes fb kakak kelas gue :)
Segalanya berawal ketika saya masih berumur 6 th.
Ketika
saya sedang bermain di halaman rumah saya di California, saya bertemu seorang
anak laki-laki. Dia seperti anak laki-laki lainnya yang menggoda saya dan
kemudian saya mengejarnya dan memukulnya. Setelah pertemuan pertama dimana saya
memukulnya, kami selalu bertemu dan saling memukul satu sama lain di batas
pagar itu. Tapi itu tidaklah lama. Kami selalu bertemu di pagar itu dan kami
selalu bersama. Saya menceritakan semua rahasia saya.
Dia
sangat pendiam... dia hanya mendengarkan apa yang saya katakan. Saya menganggap
dia enak diajak bicara dan saya dapat berbicara kepadanya tentang apa saja. Di
sekolah, kami memiliki teman-teman yang berbeda tapi ketika kami pulang
kerumah, kami selalu berbicara tentang apa yang terjadi di sekolah.
Suatu
hari, saya bercerita kepadanya tentang anak laki-laki yang saya sukai tetapi
telah menyakiti hati saya.... Dia menghibur saya dan mengatakan segalanya akan
beres. Dia memberikan kata-kata yang mendukung dan membantu saya untuk
melupakannya. Saya sangat bahagia dan menganggapnya sebagai teman sejati.
Tetapi saya tahu bahwa sesungguhnya ada yang lainnya dari dirinya yang saya
suka.
Saya
memikirkannya malam itu dan memutuskan kalau itu adalah rasa persahabatan.
Selama SMA dan semasa kelulusan, kami selalu bersama dan tentu saja saya
berpikir bahwa ini adalah persahabatan. Tetapi jauh di lubuk hati, saya tahu
bahwa ada sesuatu yang lain. Pada malam kelulusan, meskipun kami memiliki
pasangan sendiri-sendiri, sesungguhnya saya menginginkan bahwa sayalah yang
menjadi pasangannya.
Malam
itu, setelah semua orang pulang, saya pergi ke rumahnya untuk mengatakannya.
Malam itu adalah kesempatan terbesar yang saya miliki tapi saya hanya duduk di
sana dan memandangi bintang bersamanya dan bercakap-cakap tentang cita-cita
kami. Saya melihat ke matanya dan mendengarkan ia bercerita tentang impiannya.
Bagaimana dia ingin menikah dan sebagainya. Dia bercerita bagaimana dia ingin
menjadi orang kaya dan sukses. Yang dapat saya lakukan hanya menceritakan
impian saya dan duduk dekat dengan dia.
Saya
pulang ke rumah dengan terluka karena saya tidak mengatakan perasaan saya yang
sebenarnya. Saya sangat ingin mengatakan bahwa saya sangat mencintainya tapi
saya takut. Saya membiarkan perasaan itu pergi dan berkata kepada diri saya
sendiri bahwa suatu hari saya akan mengatakan kepadanya mengenai perasaan saya.
Selama
di universitas, saya ingin mengatakan kepadanya tetapi dia selalu bersama-sama
dengan seseorang. Setelah lulus, dia mendapatkan pekerjaan di New York. Saya
sangat gembira untuknya, tapi pada saat yang sama saya sangat bersedih
menyaksikan kepergiannya. Saya sedih karena saya menyadari ia pergi untuk
pekerjaan besarnya. Jadi... saya menyimpan perasaan saya untuk diri saya
sendiri dan melihatnya pergi dengan pesawat.
Saya
menangis ketika saya memeluknya karena saya merasa seperti ini adalah saat
terakhir. Saya pulang ke rumah malam itu dan menangis. Saya merasa terluka
karena saya tidak mengatakan apa yang ada di hati saya.
Saya
memperoleh pekerjaan sebagai sekretaris dan akhirnya menjadi seorang analis
komputer. Saya sangat bangga dengan prestasi saya. Suatu hari saya menerima
undangan pernikahan. Undangan itu darinya. Saya bahagia dan sedih pada saat
yang bersamaan. Sekarang saya tahu kalau saya tak akan pernah bersamanya dan
kami hanya bisa menjadi teman.
Saya
pergi ke pesta pernikahan itu bulan berikutnya. Itu adalah sebuah peristiwa
besar. Saya bertemu dengan pengantin wanita dan tentu saja juga dengannya.
Sekali lagi saya merasa jatuh cinta. Tapi saya bertahan agar tidak mengacaukan
apa yang seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi mereka. Saya mencoba
bersenang-senang malam itu, tapi sangat menyakitkan hati melihat dia begitu
bahagia dan saya mencoba untuk bahagia menutupi air mata kesedihan yang ada di
hati saya.
Saya
meninggalkan New York merasa bahwa saya telah melakukan hal yang tepat. Sebelum
saya berangkat... tiba-tiba dia muncul dan mengucapkan salam perpisahan dan
mengatakan betapa ia sangat bahagia bertemu dengan saya.
Saya
pulang ke rumah dan mencoba melupakan semua yang terjadi di New York. Kehidupan
saya harus terus berjalan. Tahun-tahun berlalu... kami saling menulis surat dan
bercerita mengenai segala hal yang terjadi dan bagaimana dia merindukan untuk
berbicara dengan saya.
Pada
suatu ketika, dia tak pernah lagi membalas surat saya. Saya sangat kuatir
mengapa dia tidak membalas surat saya meskipun saya telah menulis 6 surat
kepadanya.. Ketika semuanya seolah tiada harapan, tiba-tiba saya menerima
sebuah catatan kecil yang mengatakan: "Temui saya di pagar dimana kita
biasa bercakap-cakap".
Saya
pergi ke sana dan melihatnya di sana. Saya sangat bahagia melihatnya tetapi dia
sedang patah hati dan bersedih. Kami berpelukan sampai kami kesulitan untuk
bernafas. Kemudian ia menceritakan kepada saya tentang perceraian dan mengapa
dia tidak pernah menulis surat kepada saya. Dia menangis sampai dia tak dapat
menangis lagi...
Akhirnya
kami kembali ke rumah dan bercerita dan tertawa tentang apa yang telah saya
lakukan mengisi waktu. Akan tetapi, saya tetap tidak dapat mengatakan kepadanya
bagaimana perasaan saya yang sesungguhnya kepadanya.
Hari-hari
berikutnya... dia gembira dan melupakan semua masalah dan perceraiannya. Saya
jatuh cinta lagi kepadanya. Ketika tiba saatnya dia kembali ke New York, saya
menemuinya dan menangis. Saya benci melihatnya harus pergi. Dia berjanji untuk
menemui saya setiap kali dia mendapat libur. Saya tak dapat menunggu saat dia
datang sehingga saya dapat bersamanya. Kami selalu bergembira ketika sedang
bersama.
Suatu
hari dia tidak muncul sebagaimana yang telah dijanjikan. Saya berpikir bahwa
mungkin dia sibuk. Hari berganti bulan dan saya melupakannya.
Suatu
hari saya mendapat sebuah telepon dari New York. Pengacara mengatakan bahwa ia
telah meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil dalam perjalanan ke airport. Hati
saya hancur. Saya sangat terkejut akan kejadian ini . Sekarang saya tahu...
mengapa ia tidak muncul hari itu. Saya menangis semalaman. Air mata kesedihan
dan kepedihan. Bertanya-tanya mengapa hal ini bisa terjadi terhadap seseorang
yang begitu baik seperti dia?
Saya
mengumpulkan barang-barang saya dan pergi ke New York untuk pembacaan surat
wasiatnya. Tentu saja semuanya diberikan kepada keluarganya dan mantan
istrinya. Akhirnya saya dapat bertemu dengan mantan istrinya lagi setelah
terakhir kali saya bertemu pada pesta pernikahan. Dia menceritakan bagaimana
mantan suaminya. Tapi suaminya selalu tampak tidak bahagia. Apapun yang dia
kerjakan... tidak bisa membuat suaminya bahagia seperti saat pesta pernikahan
mereka. Ketika surat wasiat dibacakan, satu-satunya yang diberikan kepada saya
adalah sebuah diary.
Itu
adalah diary kehidupannya. Saya menangis karena itu diberikan kepada saya. Saya
tak dapat berpikir... Mengapa ini diberikan kepada saya? Saya mengambilnya dan
terbang kembali ke California.
Ketika
saya di pesawat, saya teringat saat-saat indah yang kami miliki bersama. Saya
mulai membaca diary itu. Diary dimulai ketika hari pertama kami berjumpa. Saya
terus membaca sampai saya mulai menangis. Diary itu bercerita bahwa dia jatuh
cinta kepada saya di hari ketika saya patah hati. Tapi dia takut untuk
mengatakannya kepada saya. Itulah sebabnya mengapa dia begitu diam dan
mendengarkan segala perkataan saya. Diary itu menceritakan bagaimana dia ingin
mengatakannya kepada saya berkali-kali, tetapi takut. Diary itu bercerita
ketika dia ke New York dan jatuh cinta dengan yang lain. Bagaimana dia begitu
bahagia ketika bertemu dan berdansa dengan saya di hari pernikahannya. Dia
berkata bahwa ia membayangkan bahwa itu adalah pernikahan kami.
Bagaimana
dia selalu tidak bahagia sampai akhirnya harus menceraikan istrinya. Saat-saat
terindah dalam kehidupannya adalah ketika membaca huruf demi huruf yang saya
tulis kepadanya. Akhirnya diary itu berakhir dengan tulisan, "Hari ini
saya akan mengatakan kepadanya kalau saya mencintainya."
Itu
adalah hari dimana dia mengalami kecelakaan. Hari dimana pada akhirnya saya
akan mengetahui apa yang sesungguhnya ada dalam hatinya...
Jika
engkau mencintai seseorang, "JANGAN TUNGGU ESOK HARI UNTUK MENGATAKAN
KEPADANYA.." karena esok hari itu... mungkin takkan pernah ada..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar