Rabu, Mei 09, 2012

Love in Paino Street


Judul   : Love  in Piano Street
Genre  : Romance
Rating : General
Cast     :  - Kim Nae Ra/ Amalia as Elf
               - Park Jung Soo as Lee Teuk
               - Shin Ri Hyun as Nae Ra’s friend
               - Other member Super Junior
Note    : Cerita ini fiktif, asli karyaku, maaf bila ada kesalahan tempat, nama, kata-kata, alur atau apapun lainnya. Karena semua ini hanya berdasarkan imajinasiku. Maaf juga kalau ceritanya kurang menarik. At Least, gomawoo. Neomu gomawo ^^
            -salam, author.



***

Seoul, Korea Selatan, 30 April 2012

Kim Nae Ra sedang duduk sendirian di pinggir jalan yang cukup ramai. Raut wajahnya terlihat sayu dan lemas. Nae Ra menutup matanya, berusaha mengalirkan kesedihannya kepada angin musim semi yang berhembus pelan di sekitarnya. Tidak peduli pada semua orang yang berada di sekitar jalan tersebut. Sepertinya kali ini ia sudah melakukan sesuatu yang sangat fatal menurutnya atau yah entahlah. Ia masih membayangkan apa yang telah ia lakukan kemarin dan membuat semua orang terpaku padanya, menatapnya tajam. Seperti hendak menerkamnya. Beruntung saja, beberapa orang telah menariknya menjauh dan melindunginya.
Aiish, babo! Nae Ra-ah! Neo babo! Jinjja babo! Nae Ra  memukul-mukul kepalanya pelan  ketika ia menyadari seseorang sudah berdiri di hadapannya. Orang tersebut tersenyum lembut padanya. Senyum yang sangat lembut dan juga khas. Nae Ra terkejut. Sangat. Sama sekali tidak mempercayai apa yang baru saja dilihatnya.
Ya tuhan, sekarang aku mulai membayangkannya ia berada di depanku. Aku mulai gila. Ucap Nae Ra dalam hati. Ia kemudian mengucek matanya dan menatap kembali laki-laki yang berdiri di atas tuts tuts piano yang berada di depannya. Sedetik kemudian pikirannya kembali kepada kejadian demi kejadian yang ia alami terutama hari kemarin di sebuah gedung pertunjukkan musik ternama di Seoul.

***
FlashBack

“Ri Hyun-ah.. Jebal.. Jebal..” pinta Nae Ra rengek dan sangat berharap kepada temannya Shin Ri Hyun. Tangannya menarik-narik baju Ri Hyun pelan. Semua orang yang ada di Mall itu melirik ke arah mereka dengan banyak pandangan, ada yang menatap sinis, tak acuh dan juga remeh. Ri Hyun yang menyadari keadaan sekitar langsung menyenggol Nae Ra.
“Nae Ra-ah.. Kamu lagi ngapain? Aiish, liat tuh. Banyak orang ngeliatin kita. Ntar dikira aku ngapain kamu lagi.”
“Tapi janji, kamu harus bawa pulang banyak foto SuJu oppa terutama Teuki oppa. Arasseo?”
“Ige mwo ya?? Anniya.. Eopseo. Hehehe” ledek RiHyun untuk kesekian kalinya. Nae Ra langsung mengerutkan bibirnya, berhenti menarik-narik baju Ri Hyun dan menunduk. Tanda ia sudah mulai jengkel. Lagi pula, kenapa sih RiHyun masih saja meledeknya padahal Rihyun sudah tau bahwa Nae Ra sangat menyukai Teuki oppa.
“Yaa! Nae Ra-ssi! Ne ne ne. Aku akan membawanya untukmu.”
 “Jeongmal? Gomawoo^^” jawab Nae Ra setengah teriak. Ia langsung melonjak riang mendengarnya. Issh.. Dasar anak itu. Ekspresinya berbeda sekali dengan yang sebelumnya. Batin Ri Hyun. Mereka pun berjalan memasuki salah satu cafe yang terletak di Mall tersebut.

***

Nae Ra menghentikan langkahnya. Mencari-cari suara ponselnya yang bergetar di dalam tas dan menghampiri beranda rumahnya untuk duduk.
From : Shin Ri Hyun
Nae Ra-ah, kau di mana? Cepat datang ke kantor. Ada berita bagus untukmu!
Nae Ra mengerutkan dahinya. Bertanya-tanya dalam hati, berita apa yang dimasud oleh Ri Hyun. Semoga saja, itu benar-benar membuatnya senang. Pikirnya. Ia kembali memasukkan poselnya ke dalam tas dan melanjutkan perjalanannya ke kantor.

***

Nae Ra menuruni Busway yang ditumpanginya dan kemudian berjalan  menuju kantornya. Angin pagi musim kemarau mengusap keringatnya. Meskipun udara Kota Jakarta tidak terlalu bersih dan panas, tapi ia tetap menyukainya. Nae Ra melihat keadaan sekitar yang sudah mulai padat. Suasana hatinya tiba-tiba saja menjadi sangat baik. Ia memasuki salah satu gedung Majalah terkenal dan menemukan RiHyun sedang berbicara dengan atasannya.
“Nae Ra-ah. Tebak? Berita bagus apa untukmu!”
“mm? Entahlah. Apa emang?”
“Aaaish.. ayolah tebak sekali saja.. gak seru nih masa langsung ngasih tau.”
“Apa yah? Gaji kita naik? Atau apa?”
“-____-‘ bukaaaan! Yang bener aja, kita baru juga 3 bulan kerja di sini masa iya udah langsung dapet kenaikan gaji.”
“Apa dong? Gatau nih lagi gak bisa diajak mikir nih otak.”
“Yaaa! Yasudah,lupakan saja. Tau gak? Manajer bilang kalau kamu bisa ikut sama aku dan Mas Bayu buat pergi ke Korea dan interview sama Super Junior. Eottokhae?”
“Mworago?? Jinjja? Kamu gak boong kan Hyun-ah? Aaaa senangnya!!” ucap Nae Ra setengah teriak. Ia kemudian meloncat-loncat girang dan memeluk RiHyun sangat erat. Pegawai yang lain sampai heran dan menggelengkan kepala mereka begitu melihat tingkah Nae Ra yang sedikit berlebihan.
“Yaa! Nae Ra-ssi! Jangan lebay gitu plis.. udah ah, mending kita langsung ke kantor manajer Farah aja untuk informasi lebih lanjut lagi. Kita berangkat minggu depan abisnya.”
“Eo, kaja. Aku penasaran jadinya.”

***

“Amalia, kamu pasti udah tau sebelumnya dari Nayla mengenai rencana keberangkatan kalian minggu depan. Benar kan? Pokoknya kalian harus bisa mendapatkan informasi mengenai peluncuran album baru Super Junior yang baru lengkap ya. Cari informasi yang tidak diketahui oleh majalah lain karena kalian kan langsung ketemu sama mereka. Pokoknya saya gak mau tau. Oke? Saya percaya kok sama kalian. Jangan sampai mengecewakan saya. Lagipula, jarang-jarang perusahaan dari majalah asing diizinkan untuk interviem dengan mereka. Suatu kesempatan yang langka untuk kita. ” jelas manajer Farah kepada Nae Ra yang dibalas anggukan dari Nae Ra dan juga Ri Hyun.
“Oke mbak. Siap deh. Tenang aja.” Ucap RiHyun semangat. Begitu pula dengan Nae Ra. Perbincangan pun berlanjut, banyak hal yang dibicrakan oleh mereke bertiga. Mulai dari siapa-siapa saja yang akan menemai mereka, jadwal pemberangkatan, sampai tour Korea yang nantinya mereka inginkan. Meskipun manajer Farah tidak sepenuhnya setuju dengan ide mereka yang satu ini, tapi mereka berdua berjanji tidak akan lama-lama. Itu pun kalau iya jadi.  Kemudian, Nae Ra dan Ri Hyun pun keluar ruangan dan melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing.

***

Bandara Internasional Incheon, Incheon, Korea Selatan.

Nae Ra dan teman-temannya sedang berkumpul di pintu keluar Bandar Incheon. Bersiap-siap untuk mencari hotel untuk tempat mereka beristirahat selama beberapa hari. Musim semi di Korea masih berlangsung. Membuat rombongan tersebut takjub akan pemandangannya.
“Mas Bay, yakin nih taksinya udah dipanggil ke sini? Kalo belum, gimana kalau kita jalan-jalan bentar mas? Ayolah, yah yah yah?” rengek Nae Ra pada rekannya Bayu.
“Kim Nae Ra” jawab Mas Bayu datar sambil membenarkan tasnya yang terjatuh ke tanah. Kemudian melanjutkan, “Kita baru aja sampe. Plis deh, ntar juga ada waktunya. Oh iya, jangan coba-coba ngilang entah ke mana. Arasseo?” celoteh Mas Bayu yang sama-sama menyukai Korea juga.
“Ayo, semuanya naik. Ada 2 taksi nih. Aku sama yang lain naik taksi yang depan, kalian berdua naik taksi ini. Ingat, jangan ke mana-mana!” Mas Bayu memperingatan mereka.
“Tenang aja, Mas.” Jawab Nae Ra sekenanya.

***

“Jogiyo, Ahjusshi. Bisakah kita memutar balik dan pergi ke N Seoul Tower?” tanya Nae Ra dalam Bahasa Korea. Nae Ra memang fasih dalam Bahasa Korea. Tidak salah kalau RiHyun mempromosikannya kepada Manajer Farah beberapa hari yang lalu.
“Ah, ne agasshi. Kita akan pergi ke N Seoul Tower.”
“Nae Ra-ah. Apa tidak apa-apa? Gimana kalau Mas Bayu dan yang lain nyariin kita?” Tanya RiHyun sedikit khawatir, tapi tidak dipedulikan oleh Nae Ra. Taksi pun pergi melesat menuju N Seoul Tower.
***
“RiHyun-ah. Lihat. Waaaah banyak sekali gembok cinta yang terpasang di sini. Mau juga sih buat beginian.” Rengek Nae Ra sedih. Andai saja ia bisa membuat gembok cinta bersama Lee Teuk, main biasnya.
“Aaaah, geurae, coba aku bisa menulisnya bersama Eunhyuk oppa.”  Jawab RiHyun pelan. Lingkungan sekitar N Seoul Tower benar-benar terlihat bersih. Banyak bunga yang bermekaran di sana-sini. Membuat mereka merasa nyaman dan ingin bermain lebih lama.
“Nae Ra. Aku lapar nih. Ayo kita masuk dan cari restoran.”
“Mm, Ayo! Kita ambil lantai paling atas ya, biar bisa ngeliat pemandangan Kota Seoul. Ada restoran bagus, enak, juga murah di sana.”
“Restoran apa?”
“Korean Hancook Restaurant.” Jawab Nae Ra dengan cengiran lebarnya. Ia kemudian menarik tangan RiHyun dan membawanya masuk ke dalam N Seoul Tower.

***

“Ternyata dari sini kita juga bisa ngeliat Sungai Han ya? Keren.” Ucap Nae Ra kagum. Ia melihat Sungai Han, Hyochang Park dan masih banyak daerah lainnya yang tidak ia ketahui.
“Bisa dibilang ini Eiffelnya Seoul juga kali yah? Keren banget nih. Gak nyesel dateng ke sini.” Ucap RiHyun santai.
Tak lama kemudian, pelayan datang menghampiri mereka dengan beberapa tumpuk menu yang ia bawa. Belum sempat mereka memesan, tiba-tiba saja ponselnya berdering, dan tertera nama Mas Bayu di sana.
“Nae Ra. Gawat. Mas Bayu nih nelpon.”
“Hah? Angkat aja Hyun-ah. Bilang kita lagi makan dulu.”
“Halo, Mas Bayu? Oh iya nih mas, kita lagi makan dulu hehe. Iya iya ntar kita langsung ke hotel. Hotel apa? Oh, oke.”
“Apa katanya?” tanya Nae Ra penasaran setelah bicara pada pelayan tadi. Tangannya masih memainkan sumpit yang sejak tadi tersedia di mejanya.
“Begitulah. Cuma nanya aja kita di mana, oke, bisa dibilang ia sedikit khawatir tapi biarkan sajalah. Mas Bayu ini haha.”
 “Abis ini mau mampir dulu bentar gak ke Museum Teddy Bear?”
“Boleh tuh. Di mana?”
“Di sini. Dari sini kita jalan bentar terus ketemu deh. Sayang nih udah jauh-jauh ke sini masa gak sempet liat-liat. “
“Oke. Tapi Mas Bayu.. gimana?” tanya RiHyun ragu. Nae Ra hanya melempar senyum jahil ke arah RiHyun. Itu berarti mereka siap berulah lagi untuk kesekian kalinya.
Nae Ra dan RiHyun kemudian keluar dari restoran dan pergi mengunjungi Museum Teddy Bear yang terletak di N seoul Tower. 20 menit kemudian mereka langsung bergegas menuju Stasiun Subway terdekat.
Nae Ra melihat jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Itu artinya mereka benar-benar harus kembali ke hotel sebelum Mas Bayu benar-benar marah. Saking paniknya, mereka langsung menaiki Subway yang baru saja berhenti karena melihat jadwal sebelumnya bahwa Subway berikutnya menuju lokasi tempat hotel mereka.
10 menit berlalu ketika RiHyun menyadari arah Subway yang mereka naiki. Ia melihat papan yang berada di depannya dan terbelalak saat menyadari bahwa subway ini menuju entah kemana.
“Nae Ra, kita nyasar.”
“Apa? Engga kok.”
“Liat itu papannya.”
“Hah? Omo! Gimana nih? Aaaah. Mana gak bisa berhenti lagi.”
“Lagian suruh siapa juga naik Subway! Udah aku bilang kan lebih aman naik Bus aja. Jadi gak nyasar kayak gini. Aigoo, bisa-bisa pulang nanti kita kena marah abis-abisan nih.”
“Mianhae RiHyun-ah. Tapi tadi jadwalnya emang bener kok.”
“Jadwalnya emang jam berapa?” tanya Rihyun datar.
“Jam 5.15. dan sekarang.....” Nae Ra terdiam, tidak berani melanjutkan ucapannya. Ia salah, jelas saja. Dan sudah mebuat mereka berdua nyasar. Belum lagi nanti terkena omelan Mas Bayu dan yang lain.
“Dan sekarang baru jam 5.10. Itu artinya kita benar-benar salah. Bagus sekali kita ini yah.”
“hehehe.” Jawab Nae Ra polos dengan cengiran lebarnya.
 10 menit kembali berlalu. Dan kereta pun berhenti. Mereka langsung bergegas keluar stasiun dan menghirup udara segar. Saat ini, mereka benar-benar tidak tahu di mana mereka berada. Mereka berjalan, berusaha tidak bertanya dan pura-pura melihat keadaan sekitar. Kemudian, mata mereka tertuju pada sebuah kerumunan kecil yang terletak di sebelah jalan kanan mereka.

***

“Daerah apa ini? Kenapa banyak tuts piano di sini?” tanya Nae Ra bingung. Ia merasa takjub dengan jalan yang ada di hadapannya ini. Belum lagi jalanan ini di kelilingi banyak toko, dan tempat makan. Cocok sekali untuk dipakai nongkrong.
“Jalan ini disebut Piano Street.” Jawab RiHyun sekenanya. Ia pernah mendengar tentang jalan ini tapi tidak benar-benar meyakininya hingga saat ini mereka melihatnya. Piano Street ini cukup ramai. Banyak pejalan kaki yang melewati jalan ini, mungkin orang-orang ini yang habis atau mau menuju toko-toko sekitar.
“Oppa!! Oppa!!”
Teriakan cewek-cewek Korea mengalihkan perhatian Nae Ra dan RiHyun. Nae Ra dan RiHyun saling berpandangan dan memutuskan untuk mengahmpiri arah suara tersebut.
 “Siwon Oppa!!” “Teuki Oppa!!” Nae Ra terkejut mendengar teriakan itu dan kemudian menghambur ke arah kerumunan itu juga. Belum sempat Nae Ra sampai ke dalam kerumunan itu, Nae Ra mendapati lee Teuk sedang menatapnya. Kemudian tersenyum lembut kepadanya. Senyum yang sungguh tidak bisa diartikan oleh dirinya sendiri. Sedetik kemudian ia sadar dan  melihat sekeliling, tidak ada orang. Bahkan RiHyun sudah menjadi bagian dari kerumunan tersebut.
Nae Ra memberanikan diri mendekati kerumunan yang mulai terpecah menjadi beberapa bagian tersebut sambil mengeluarkan secarik kertas dari note yang selalu berada di sakunya dan sebuah sipdol hitam dari tempat yang sama. Ia mendekati kerumunan Lee Teuk dan tiba-tiba saat ia baru saja ingin meminta tanda tangan dari Lee Teuk. Seseorang menubruknya hingga membuatnya jatuh ke belakang. Nae Ra meringis. Dan mendapati sebuah tubuh tepat berada di atasnya. Ia hampir saja pingsan saat mengetahui siapa yang menimpa tubuhnya.
“Aaah, jwesong habnida jwesong habnida.” Ucap Lee Teuk khas. Nae Ra terdiam. Speechless. Bingung. Senang. Semuanya bercampur menjadi satu. Benar-benar tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Maksudnya, kau tahu kan bagaimana rasanya jika seorang selebriti apalagi main biasmu tepat berada di depanmu dan meminta maaf padamu? Itulah yang dirasakan oleh Nae Ra.
“Agasshi? Gwenchanhayo? Apa ada yang sakit?” Lee Teuk melambaikan tangannya di depan wajah Nae Ra. Sedetik kemudian, Nae Ra kembali sadar dan melompat menjauhi Lee Teuk.
“Eh? Aaah, gwenchanha. Gwenchanha.” Jawab Nae Ra sedikit panik sambil menundukkan badannya pada Lee Teuk. Nae Ra merasa canggung sekali lantaran kini ia yang menjadi pusat perhatian orang-orang sekitar.
Nae Ra tersenyum kaku. Ia mendongak dan mencari-cari di mana RiHyun berada. Saat ia mengetahui bahwa RiHyun berada di kerumunan Eunhyuk, ia menundukkan kepalanya sekali lagi kepada Lee Teuk dan tersenyum. Meninggalkan Lee Teuk yang masih berdiri speechless.

***

“Hyeong, kau lagi ngapain sih? Dari tadi diem aja.” Senggol Eunhyuk.
“Ah, anni.. aku masih tidak percaya dengan kejadian tadi. Bisa-bisanya itu cewek ninggalin aku sendirian. Tanpa mengucapkan apa-apa. Hanya sebuah kata ‘gwenchanha’. Dan kemudian ngilang? Yang bener aja.”
“Geurae? Tapi sepertinya kau terlihat tertarik dengan gadis itu Hyeong? Aku salah?
Eeteuk hanya menggeleng dan kembali menatap Eunhyuk, kemudian melanjutkan, “Kau tadi gak liat gimana ekspresinya sih. Polos sekali dia. Tapi, sepertinya dia bukan dari sini. Wajahnya bukan wajah orang Korea.”
“Jinjja? Lalu? Oh iya tadi juga ia mengajak salah satu fansku. Menurutmu, mereka orang mana?”
“Entahlah, Malaysia mungkin? Atau mungkin juga Indonesia.” Lee Teuk menyendokkan es krimnya yang terakhir ke dalam mulutnya.
“Hyeong, besok kita jadi mau ada interview sama salah satu majalah Indonesia?”
“Jadi. Manajer sendiri kan yang bilang? Abis itu penampilan come back kita di Music Bank.” Ucap Lee Teuk, matanya masih tertuju dengan pemandangan di luar restoran. Pikirannya melayang ke saat di mana ia melihat Nae Ra untuk pertama kalinya. Wajah yang bulat, putih dengan bola mata coklat yang menempel pada matanya dan rambutnya yang terurai sebahu. Tanpa sadar, seulas senyum merekah di bibirnya. Dan tanpa Lee Teuk sadari juga, ia berharap bisa bertemu dengan Nae Ra lagi.

***

Nae Ra dan RiHyun akhirnya sampai di hotel. Mas Bayu dan yang lain sudah menunggu mereka cemas di sofa ruang tamu hotel tersebut. Nae Ra dan juga RiHyun langsung meminta maaf dan menjelaskan kalau mereka sempat nyasar, tapi untunglah bisa kembali berkat keberanian RiHyun bertanya pada orang-orang. Tentu saja Nae Ra tidak menceritakan soal Lee Teuk yang menubruknya.
“Ya sudahlah, lebih baik kalian istirahat dan makan malam. Persiapkan diri kalian untuk interview besok. Oh iya, besok itu kita interviewnya bukan di gedung SM Ent nya, tapi di gedung Music Bank. Soalnya Super Junior besok bakal ngadain comeback stage-nya mereka. Apa ada pertanyaan?” Mas Bayu, selaku atasan mereka menjelaskan pada mereka.Semuanya mengangguk setuju, termasuk juga Nae Ra dan RiHyun yang terlihat kelelahan sekali. Mereka berdua langsung bergegas menuju kamar mereka setelah diberi kunci oleh Mas Bayu.

***

Omonaaaa~ Gimana nih? Tadi aku compong banget pas Teuki oppa bicara padaku. Kenapa aku bersikap compong gitu tadi? Aish, gimana pas besok interview? Yaaa, aku tidak bisa membayangkannya. Ah, biarkan saja. Toh Teuki oppa pasti sudah melupakan kejadian tadi. Mungkin saja ia sudah tidak mengingatku lagi bukan?Oke, lebih baik sekarang aku tidur dan melupakan semuanya. Lu-pa-kan.

***

Gedung Music Bank, Seoul, 17.00 KST

Nae Ra dan yang lainnya memasuki gedung MuBank itu dan langsung menuju back stagenya, tempat di mana Super Junior berada menunggu saat mereka tampil. Nae Ra merasa jantungnya hampir berhenti berdetak saat memasuki ruangan itu dan mendapati Lee Teuk sedang bercanda dengan member lainnya.
“Annyeong Haseyo Super Junior. Kami dari Majalah.....” Mas Bayu memperkenalkan mereka semua satu per satu. Yesung langsung menyambutnya dan berbincang sedikit dengan Mas Bayu. Sekarang giliran, RiHyun dan dirinyalah yang harus melakukan wawancara seputar album baru mereka.
Nae Ra mengambil kursi  di sebelah Mas Bayudan RiHyun kemudian melihat ke arah Super Junior. Dan sekali lagi, Nae Ra mendapati Lee Teuk sedang berbisik-bisik tertawa bersama Eunhyuk. Apakah Lee Teuk masih mengingatya? Apa sekarang ia malah sedang mentertawakan dirinya? Gagasan itu tiba-tiba saja muncul di benak Nae Ra. Ia langsung melihat ke arah RiHyun yang dibalas RiHyun dengan sebuah anggukan. Aigo, eotteokhaeyo? Batin Nae Ra.

***

“Teuki hyeong... Coba lihat siapa yang datang?” panggil Eunhyuk. Lee teuk langsung menghampiri Eunhyuk dan melihat ke arah yang ditunjuk eunhyuk.
Lee Teuk mengerutkan dahinya kemudian tersenyum senang. Ternyata harapannya kemarin dikabulkan. Ia langsung mengambil barisan paling depan bersama Eunhyuk dan muali berbisik,
“Eunhyuk-ah.. Kau tahu? Sepertinya dia jodohku. Hahaha”
“Kau yakin hyeong? Jangan terlalu percaya diri. Siapa tahu dia ternyata fansku?”
“Yaa! Eunhyuk-ah. Kalau memang begitu” Lee teuk melirik ke arah Nae Ra yang masih fokus dengan ucapan Yesung dan tertawa sendiri. Lee Teuk mencoba memperhatikan interview yang sedang berjalan sambil sesekali melempar pandangan pada Nae Ra. Lee Teuk lantas melanjutkan, “Kalau emang begitu.. aku akan membuatnya mennyukaiku dan menjadi fansku. Hahaha” jawab Lee Teuk santai, kemudian melirik kea rah Nae Ra lagi. Ya Tuhan, sungguh, semua orang pasti bisa melihat raut wajah Nae Ra yang berubah menjadi merah saking malunya ketika mendapati Lee Teuk sedang memperhatikannya kembali.
Kenapa gadis ini begitu lucu? Batin Lee teuk.

***

Riuh suara penonton di dalam gedung MuBank menyambut penampilan Super Junior. Album mereka yang terbaru benar-benar membuat para Elf bersorak sorai lantaran penampilan mereka yang berbeda dengan sebelumnya.
Super Junior memasuki stage-nya. Ya, Nae Ra melihatnya. Ia dan juga RiHyun menjadi salah satu Elf yang juga ikut meramaikan suasana di dalam gedung tersebut. Mereka berdua tidak kalah berteriak memanggil nama bias mereka. Kemudian suasana di sekitar mereka mulai hening saat musik dimulai.
“RiHyun-ah. Aku tidak percaya bisa menonton mereka secara live. Ini pertama kalinya. Naega jeongmal.. Aigo, aku senang sekali!!”
Suara para ELF menggema di seluruh ruangan. Light stick warna Biru Safir mulai menyerupai lautan. Super Junior benar-benar meriuhkan suasana. Sepanjang performance mereka, tidak henti-hentinya ELF meneriaki nama Super Junior. Ada juga yang berteriak nama biasnya masing-masing.
“Nae Ra. Lihat, Teuki oppa keluar stage dan menuju kemari. Nae Ra. Nae Ra!!” teriak RiHyun.
“Mworago?? Hah? Teuki oppa mau ngapain, mau ke siapa?”
“Aku bertemu dengan seorang gadis imut kemarin sore.” Lee Teuk mulai berbicara sembari keluar panggung. Kemudian melanjutkan “Awalnya memang salahku yang menubruknya hingga ia terjatuh. Tapi.. satu yang membuatku merasa speechless dan sangat keheranan. Bagaimana bisa  ia meninggalkanku begitu saja? Aku kan orang penting di sini. Hahaha.”
“Hyeong!! Aku lebih penting darimu..” komentar salah satu member Suju lainnya, Lee Dong Hae.
“Aaaaah, gadis itu di mana yah? Harusnya ia melihatku saat ini. Nah itu dia.” Lee teuk mulai menghampiri Nae Ra yang membuat Nae Ra benar-benar panik.
Nae Ra menahan napasnya ketika Lee Teuk membicarakan kejadian kemarin sore. Apa-apaan ini? Aku tidak sedang bermimpi kan? Teuki oppa, apa kau serius dengan ucapanmu?
Rasanya Na Ra ingin lari dan kabur entah ke mana ketika ia tahu bahwa Lee Teuk semakin mendekatinya. Menghampirinya. Mau apa sih Lee Teuk ini? Membuat jantung Nae Ra hampir berhenti saja.
Lee Teuk berdiri di hadapan Nae Ra dan mengajaknya menuju panggung. Nae Ra menatap Lee teuk dan tiba-tiba saja menerima uluran tangan Lee Teuk. Mereka menuruni tangga kursi penonton dan menuju stage, member Super Junior lainnya menyoraki Lee Teuk dan tertawa heran.
Saat hendak memasuki panggung, tiba-tiba saja kaki Nae Ra tersandung yang menyebabkannya kehilangan keseimbangan. Ia mencoba meraih tangan Lee Teuk namun ia tetap jatuh. Kejadiannya terasa cepat sekali sampai-sampai Nae Ra tidak menyadari apa yang baru saja ia perbuat. Sedetik kemudian, Nae Ra sadar dan mendongak. Kemudian ia mendapati sobekan lengan Baju Lee teuk ada di tangannya. Ia lalu melihat ke arah Lee Teuk yang menatapnya diam, berusaha menahan rasa malu yang diterima dari penonton yang mulai tertawa namun seketika itu juga suasana langsung hening.
Eunhyuk, Donghae dan yang lainnya yang pada awalnya tertawa puas kemudian segera menghampiri Lee Teuk untuk menutupinya. Sedangkan Nae Ra? Matanya mulai memanas dan berkaca-kaca. Ia tidak tahu apa yang baru saja ia perbuat. Penonton mulai ribut dan sebagian dari mereka menyoraki Nae Ra.
Beberapa saat kemudian, beberapa pengawal yang mungkin dari pihak Music Bank membawa Nae Ra ke belakang panggung dan menenangkannya. Mas Bayu, Ri Hyun langsung bergegas menuju back stage untuk menenangi Nae Ra.
Suasana kembali normal setelah MC memasuki stage dan mengalihkan pembicaraan kepada Super Junior lainnya, Lee Teuk juga kembali ke panggung setelah mengganti kostumnya.
Lee Teuk tersenyum kepada ELF si seluruh ruangan dan berusaha mencairkan suasana. Sambil sesekali, mencari-cari di mana Nae Ra berada. Namun ia tidak mendapati Nae Ra ditempatnya ataupun di sudut ruangan lainnya.

***

Seoul, 30 April 2012, Saat ini.

            “Annyeong. Kim Nae Ra?”
Sebuah suara yang keluar dari laki-laki tersebut menyadarkan lamunan Naera. Ia kemudian berkedip. Sekali. Dua kali. Tidak, tidak, bahkan lebih dari sepuluh kali. Nae Ra masih harus mencerna wujud dan bentuk laki-laki yang dihadapannya dan kemudian berkata,
“ Teuki oppa? Eomeona! Apa aku bermimpi saat ini?”
“Anni.. kau tidak bermimpi. Aku, Lee Teuk, memang ada di sini.” Ucapnya sambil melipat kedua lengannya dan tentu saja, sambil tersenyum.
“Untuk apa? Ah, geurae. Oppa, jwesong habnida. Jwesong habnida telah membuatmu malu kemarin. Aku tidak bermaksud-apa-apa padamu.”
“Aku tidak mau memaafkanmu. 2 kali kau membuatku speechless dan malu di depan umum, dan sekarang aku menuntutmu.” Ucap Lee Teuk santai. Ia kemudian duduk di bangku sebelah Nae Ra dan kembali menatapnya.
“Mwo? Jinjja? Oppa, naega jeongmal dangsineul mianhaeyo. Mianhaeyo oppa. Jinjja mianhaeyo L
“mm, gimana yah? Aku akan memaafkanmu tapi dengan 1 syarat.” Jawab le Teuk yang membuat Nae Ra terkesiap.
“Eo. Apa syaratnya?”
“Aku mau kau berkencan denganku.”
“MWORAGO???  Au, aku masih sadar ternyata.” Nae Ra mencubit pipinya sendiri. Lee Teuk hanya menatapnya tertawa sambil menggelengkan kepala. Heran dengan tingkah gadis yang berada di sebelahnya ini.
“jadi, apakah kau mau berkencan denganku?” Lee Teuk beranjak berdiri dan mengulurkan tangannya sekali lagi. Kali ini Nae Ra berpikir keras. Bertanya-tanya dalam hati apakah Lee Teuk benar-benar ingin mengajaknya berkencan atau malah ia ingin balas dendam atas kejadian kemarin yang diperbuatnya.
Lee teuk melihat sorot mata ragu pada Nae Ra dan kemudian kembali duduk di sebelah Nae Ra. Ia tersenyum dan mendekatkan dirinya ke telinga Nae Ra.
“Aku serius. Sungguh dan tidak mempunyai niat buruk sama sekali.”
Seberkas senyum menghiasi wajah Nae Ra. Entah kenapa, kata-kata Lee Teuk terasa benar dan jujur. Nae Ra menjulurkan tangannya kepada Lee Teuk yang disambut hangat oleh Lee Teuk. Tidak ada sedikitpun keraguan diantara mereka berdua. Mereka berjalan, menari dan bercanda dia atas tuts tuts piano di Piano Street.

***
Jakarta, 20 Februari 2013

Kring.. Kring.. Kring...
Dering ponsel Nae Ra membuyarkan lamunannya. Ia masih berkutat dengan project kantornya yang harus ia selesaikan hari ini juga. Tapi masalahnya adalah, hari ini hari ulang tahunnya dan ia tidak bisa ke mana-mana. Ditambah lagi, Lee Teuk sama sekali tidak meneleponnya hari ini. Benar-benar hari yang menyebalkan.
“Yoboseyo, Nae Ra-ssi.” Sebuah suara membuat Nae Ra terlonjak kaget dan bangun dari kursinya. Ia tidak percaya.
“Oppa? Oppa waee..? Kenapa baru meneleponku sekarang?” tanya Nae Ra sedih.
“Mianhae.. Dari kemarin aku sibuk menyiapkan sesuatu. Bagaimana kabarmu hari ini?”
“Naega? Baik-baik saja. Oppa sendiri bagaimana?”
“Aku capek sekali.. Tapi tidak apa, mendengar suaramu saja rasa capekku hilang semuanya.”
“Jinjja? Aku tidak percaya dengan gombalanmu, oppa.”
“Yaa! Eh, kau tumben hari ini cantik sekali.”
“Apa maksudmu? Memangnya kau bisa melihatku apa? Mulai deh oppa -_-“
“Sungguh. Apa mungkin akunya saja yang sudah lama tidak melihatmu Nae Ra-ah? Hei, coba lihat ke arah jam 2. Kau pasti akan..”
Tanpa memperdulikan ucapan Lee teuk selanjutnya, Nae Ra langsung melihat ke arah jam 2 dan mendapati Lee Teuk berdiri di sana, memegang sebuah kue ulang tahun untuknya.
“menemukanmu..” Nae Ra menghampiri Lee Teuk yang disambut Lee Teuk dengan cengiran khasnya. Membuat pegawai kantor lain iri dengan Nae Ra.
“Annyeong oppa. Kau tidak bilang padaku kalau mau ke sini.”
“Kalau aku bilang, itu bukan surprise namanya. Saengil chukkahae Nae Ra-ah. Saranghae.” Ucap Lee Teuk, kemudian mendaratkan bibirnya ke pipi kanan Nae Ra. Riuh suara pegawai lainnya membuat Nae Ra semakin senang sekaligus malu. Ingin sekali ia memeluk Lee Teuk saking senangnya.
“Tunggu sebentar. Kau harus berdoa dulu sebelum meniup kue ulang tahunmu.”
“Ah, Ne!! Baiklah.”

Ya Tuhan, terima kasih karena telah mengirimkanku Teuki oppa. My charming prince in my life. Semoga, kami tetap bersama dan semoga ia tetap berada di sampingku. Untuk saat ini dan selamanya..

The End


Tidak ada komentar:

Posting Komentar