Judul
: Love
in Piano Street
Genre : Romance
Rating : General
Cast : -
Kim Nae Ra/ Amalia as Elf
- Park Jung Soo as Lee Teuk
- Shin Ri Hyun as Nae Ra’s friend
- Other member Super Junior
Note : Cerita ini fiktif, asli karyaku, maaf bila ada kesalahan tempat,
nama, kata-kata, alur atau apapun lainnya. Karena semua ini hanya berdasarkan
imajinasiku. Maaf juga kalau ceritanya kurang menarik. At Least, gomawoo. Neomu gomawo ^^
-salam,
author.
***
Seoul, Korea Selatan, 30 April 2012
Kim Nae Ra sedang duduk sendirian
di pinggir jalan yang cukup ramai. Raut wajahnya terlihat sayu dan lemas. Nae
Ra menutup matanya, berusaha mengalirkan kesedihannya kepada angin musim semi
yang berhembus pelan di sekitarnya. Tidak peduli pada semua orang yang berada
di sekitar jalan tersebut. Sepertinya kali ini ia sudah melakukan sesuatu yang
sangat fatal menurutnya atau yah entahlah. Ia masih membayangkan apa yang telah
ia lakukan kemarin dan
membuat semua orang terpaku padanya, menatapnya tajam. Seperti hendak
menerkamnya. Beruntung
saja,
beberapa orang
telah menariknya menjauh dan melindunginya.
Aiish,
babo! Nae Ra-ah! Neo babo! Jinjja babo! Nae Ra memukul-mukul kepalanya pelan ketika ia menyadari seseorang sudah berdiri di
hadapannya. Orang tersebut tersenyum lembut padanya. Senyum yang sangat lembut
dan juga khas. Nae Ra terkejut. Sangat. Sama sekali tidak mempercayai apa yang
baru saja dilihatnya.
Ya
tuhan, sekarang aku mulai membayangkannya ia berada di depanku. Aku mulai gila.
Ucap Nae Ra dalam hati. Ia kemudian mengucek matanya dan menatap kembali
laki-laki yang berdiri di atas tuts tuts piano yang berada di depannya. Sedetik
kemudian pikirannya kembali kepada kejadian demi kejadian yang ia alami
terutama hari kemarin di sebuah gedung pertunjukkan musik ternama di Seoul.
***
FlashBack
“Ri Hyun-ah.. Jebal.. Jebal..”
pinta Nae Ra rengek dan sangat berharap kepada temannya Shin Ri Hyun. Tangannya
menarik-narik baju Ri Hyun pelan. Semua orang yang ada di Mall itu melirik ke
arah mereka dengan banyak
pandangan, ada yang menatap sinis, tak acuh dan juga remeh. Ri Hyun yang menyadari
keadaan sekitar langsung menyenggol Nae Ra.
“Nae Ra-ah.. Kamu lagi ngapain?
Aiish, liat tuh. Banyak orang ngeliatin kita. Ntar dikira aku ngapain kamu
lagi.”
“Tapi janji, kamu harus bawa pulang
banyak foto SuJu oppa terutama Teuki oppa. Arasseo?”
“Ige mwo ya?? Anniya.. Eopseo.
Hehehe” ledek RiHyun untuk kesekian kalinya. Nae Ra langsung mengerutkan
bibirnya, berhenti menarik-narik baju Ri Hyun dan menunduk. Tanda ia sudah
mulai jengkel. Lagi pula, kenapa sih RiHyun masih saja meledeknya padahal Rihyun
sudah tau bahwa Nae Ra sangat menyukai Teuki oppa.
“Yaa! Nae Ra-ssi! Ne ne ne. Aku
akan membawanya untukmu.”
“Jeongmal? Gomawoo^^” jawab Nae Ra setengah
teriak. Ia langsung melonjak riang mendengarnya. Issh.. Dasar anak itu. Ekspresinya berbeda sekali dengan yang
sebelumnya. Batin Ri Hyun. Mereka pun berjalan memasuki salah satu cafe
yang terletak di Mall tersebut.
***
Nae Ra menghentikan langkahnya.
Mencari-cari suara ponselnya yang bergetar di dalam tas dan menghampiri beranda
rumahnya untuk duduk.
From
: Shin Ri Hyun
Nae Ra-ah, kau di mana? Cepat
datang ke kantor. Ada berita bagus untukmu!
Nae Ra mengerutkan dahinya.
Bertanya-tanya dalam hati, berita apa yang dimasud oleh Ri Hyun. Semoga saja, itu benar-benar membuatnya
senang. Pikirnya. Ia kembali memasukkan poselnya ke dalam tas dan
melanjutkan perjalanannya ke kantor.
***
Nae Ra menuruni Busway yang
ditumpanginya dan kemudian berjalan
menuju kantornya. Angin pagi musim kemarau mengusap keringatnya.
Meskipun udara Kota Jakarta tidak terlalu bersih dan panas, tapi ia tetap menyukainya. Nae
Ra melihat keadaan sekitar yang sudah mulai padat. Suasana hatinya tiba-tiba
saja menjadi sangat baik. Ia memasuki salah satu gedung Majalah terkenal dan
menemukan RiHyun sedang berbicara dengan atasannya.
“Nae Ra-ah. Tebak? Berita bagus apa
untukmu!”
“mm? Entahlah. Apa emang?”
“Aaaish.. ayolah tebak sekali
saja.. gak seru nih masa langsung ngasih tau.”
“Apa yah? Gaji kita naik? Atau apa?”
“-____-‘ bukaaaan! Yang bener aja,
kita baru juga 3 bulan kerja di sini masa iya udah langsung dapet kenaikan
gaji.”
“Apa dong? Gatau nih lagi gak bisa
diajak mikir nih otak.”
“Yaaa! Yasudah,lupakan saja. Tau
gak? Manajer bilang kalau kamu bisa ikut sama aku dan Mas Bayu buat pergi ke
Korea dan interview sama Super Junior. Eottokhae?”
“Mworago?? Jinjja? Kamu gak boong
kan Hyun-ah? Aaaa senangnya!!” ucap Nae Ra setengah teriak. Ia kemudian
meloncat-loncat girang dan memeluk RiHyun sangat erat. Pegawai yang lain sampai
heran dan menggelengkan kepala mereka begitu melihat tingkah Nae Ra yang
sedikit berlebihan.
“Yaa! Nae Ra-ssi! Jangan lebay gitu
plis.. udah ah, mending kita langsung ke kantor manajer Farah aja untuk informasi
lebih lanjut lagi. Kita berangkat minggu depan abisnya.”
“Eo, kaja. Aku penasaran jadinya.”
***
“Amalia, kamu pasti udah tau
sebelumnya dari Nayla mengenai rencana keberangkatan kalian minggu depan. Benar
kan? Pokoknya kalian harus bisa mendapatkan informasi mengenai peluncuran album
baru Super Junior yang baru lengkap ya. Cari informasi yang tidak diketahui
oleh majalah lain karena kalian kan langsung ketemu sama mereka. Pokoknya saya
gak mau tau. Oke? Saya percaya kok sama kalian. Jangan sampai mengecewakan
saya. Lagipula, jarang-jarang perusahaan dari majalah asing diizinkan untuk
interviem dengan mereka. Suatu kesempatan yang langka untuk kita. ” jelas manajer Farah kepada Nae Ra yang dibalas
anggukan dari Nae Ra dan juga Ri Hyun.
“Oke mbak. Siap deh. Tenang aja.” Ucap
RiHyun semangat. Begitu pula dengan Nae Ra. Perbincangan pun berlanjut, banyak
hal yang dibicrakan oleh mereke bertiga. Mulai dari siapa-siapa saja yang akan
menemai mereka, jadwal pemberangkatan, sampai tour Korea yang nantinya mereka
inginkan. Meskipun manajer Farah tidak sepenuhnya setuju dengan ide mereka yang
satu ini, tapi mereka berdua berjanji tidak akan lama-lama. Itu pun kalau iya
jadi. Kemudian, Nae Ra dan Ri Hyun pun
keluar ruangan dan melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing.
***
Bandara Internasional Incheon, Incheon,
Korea Selatan.
Nae Ra dan teman-temannya sedang
berkumpul di pintu keluar Bandar Incheon. Bersiap-siap untuk mencari hotel
untuk tempat mereka beristirahat selama beberapa hari. Musim semi di Korea masih
berlangsung. Membuat rombongan tersebut takjub akan pemandangannya.
“Mas Bay, yakin nih taksinya udah
dipanggil ke sini? Kalo belum, gimana kalau kita jalan-jalan bentar mas?
Ayolah, yah yah yah?” rengek Nae Ra pada rekannya Bayu.
“Kim Nae Ra” jawab Mas Bayu datar
sambil membenarkan tasnya yang terjatuh ke tanah. Kemudian melanjutkan, “Kita
baru aja sampe. Plis deh, ntar juga ada waktunya. Oh iya, jangan coba-coba
ngilang entah ke mana. Arasseo?” celoteh Mas Bayu yang sama-sama menyukai Korea
juga.
“Ayo, semuanya naik. Ada 2 taksi
nih. Aku sama yang lain naik taksi yang depan, kalian berdua naik taksi ini.
Ingat, jangan ke mana-mana!” Mas Bayu memperingatan mereka.
“Tenang aja, Mas.” Jawab Nae Ra sekenanya.
***
“Jogiyo, Ahjusshi. Bisakah kita
memutar balik dan pergi ke N Seoul Tower?” tanya Nae Ra dalam Bahasa Korea. Nae
Ra memang fasih dalam Bahasa Korea. Tidak salah kalau RiHyun mempromosikannya
kepada Manajer Farah beberapa hari yang lalu.
“Ah, ne agasshi. Kita akan pergi ke
N Seoul Tower.”
“Nae Ra-ah. Apa tidak apa-apa?
Gimana kalau Mas Bayu dan yang lain nyariin kita?” Tanya RiHyun sedikit
khawatir, tapi tidak dipedulikan oleh Nae Ra. Taksi pun pergi melesat menuju N
Seoul Tower.
***
“RiHyun-ah. Lihat. Waaaah banyak
sekali gembok cinta yang terpasang di sini. Mau juga sih buat beginian.” Rengek
Nae Ra sedih. Andai saja ia bisa membuat gembok cinta bersama Lee Teuk, main
biasnya.
“Aaaah, geurae, coba aku bisa
menulisnya bersama Eunhyuk oppa.” Jawab
RiHyun pelan. Lingkungan sekitar N Seoul Tower benar-benar terlihat bersih.
Banyak bunga yang bermekaran di sana-sini. Membuat mereka merasa nyaman dan
ingin bermain lebih lama.
“Nae Ra. Aku lapar nih. Ayo kita
masuk dan cari restoran.”
“Mm, Ayo! Kita ambil lantai paling
atas ya, biar bisa ngeliat pemandangan Kota Seoul. Ada restoran bagus, enak,
juga murah di sana.”
“Restoran apa?”
“Korean Hancook Restaurant.” Jawab
Nae Ra dengan cengiran lebarnya. Ia kemudian menarik tangan RiHyun dan membawanya
masuk ke dalam N Seoul Tower.
***
“Ternyata dari sini kita juga bisa
ngeliat Sungai Han ya? Keren.” Ucap Nae Ra kagum. Ia melihat Sungai Han,
Hyochang Park dan masih banyak daerah lainnya
yang tidak ia ketahui.
“Bisa dibilang ini Eiffelnya Seoul
juga kali yah? Keren banget nih. Gak nyesel dateng ke sini.” Ucap RiHyun
santai.
Tak lama kemudian, pelayan datang
menghampiri mereka dengan beberapa tumpuk menu yang ia bawa. Belum sempat
mereka memesan, tiba-tiba saja ponselnya berdering, dan tertera nama Mas Bayu
di sana.
“Nae Ra. Gawat. Mas Bayu nih
nelpon.”
“Hah? Angkat aja Hyun-ah. Bilang
kita lagi makan dulu.”
“Halo, Mas Bayu? Oh iya nih mas,
kita lagi makan dulu hehe. Iya iya ntar kita langsung ke hotel. Hotel apa? Oh,
oke.”
“Apa katanya?” tanya Nae Ra
penasaran setelah bicara pada pelayan tadi. Tangannya masih memainkan sumpit
yang sejak tadi tersedia di mejanya.
“Begitulah. Cuma nanya aja kita di
mana, oke, bisa dibilang ia sedikit khawatir tapi biarkan sajalah. Mas Bayu ini
haha.”
“Abis ini mau mampir dulu bentar gak ke Museum
Teddy Bear?”
“Boleh tuh. Di mana?”
“Di sini. Dari sini kita jalan
bentar terus ketemu deh. Sayang nih udah jauh-jauh ke sini masa gak sempet
liat-liat. “
“Oke. Tapi Mas Bayu.. gimana?”
tanya RiHyun ragu. Nae Ra hanya melempar senyum jahil ke arah RiHyun. Itu
berarti mereka siap berulah lagi untuk kesekian kalinya.
Nae Ra dan RiHyun kemudian keluar dari restoran dan pergi mengunjungi
Museum Teddy Bear yang terletak di N seoul Tower. 20 menit kemudian mereka
langsung bergegas menuju Stasiun Subway terdekat.
Nae Ra melihat jam tangannya. Waktu
sudah menunjukkan pukul 5 sore. Itu artinya mereka benar-benar harus kembali ke
hotel sebelum Mas Bayu benar-benar marah. Saking paniknya, mereka langsung
menaiki Subway yang baru saja berhenti karena melihat jadwal sebelumnya bahwa
Subway berikutnya menuju lokasi tempat hotel mereka.
10 menit berlalu ketika RiHyun
menyadari arah Subway yang mereka naiki. Ia melihat papan yang berada di
depannya dan terbelalak saat menyadari bahwa subway ini menuju entah kemana.
“Nae Ra, kita nyasar.”
“Apa? Engga kok.”
“Liat itu papannya.”
“Hah? Omo! Gimana nih? Aaaah. Mana
gak bisa berhenti lagi.”
“Lagian suruh siapa juga naik
Subway! Udah aku bilang kan lebih aman naik Bus aja. Jadi gak nyasar kayak
gini. Aigoo, bisa-bisa pulang nanti kita kena marah abis-abisan nih.”
“Mianhae RiHyun-ah. Tapi tadi
jadwalnya emang bener kok.”
“Jadwalnya emang jam berapa?” tanya
Rihyun datar.
“Jam 5.15. dan sekarang.....” Nae
Ra terdiam, tidak berani melanjutkan ucapannya. Ia salah, jelas saja. Dan sudah
mebuat mereka berdua nyasar. Belum lagi nanti terkena omelan Mas Bayu dan yang
lain.
“Dan sekarang baru jam 5.10. Itu
artinya kita benar-benar salah. Bagus sekali kita ini yah.”
“hehehe.” Jawab Nae Ra polos dengan cengiran lebarnya.
10 menit
kembali berlalu. Dan kereta
pun
berhenti. Mereka langsung bergegas keluar stasiun dan menghirup udara segar. Saat
ini, mereka benar-benar tidak tahu di mana mereka berada. Mereka berjalan,
berusaha tidak bertanya dan pura-pura melihat keadaan sekitar. Kemudian, mata mereka tertuju pada sebuah
kerumunan kecil yang terletak di sebelah jalan kanan mereka.
***
“Daerah apa ini? Kenapa banyak tuts
piano di sini?” tanya Nae Ra bingung. Ia merasa takjub dengan jalan yang ada di
hadapannya ini. Belum lagi jalanan ini di kelilingi banyak toko, dan tempat
makan. Cocok sekali untuk dipakai nongkrong.
“Jalan ini disebut Piano Street.” Jawab
RiHyun sekenanya. Ia pernah mendengar tentang jalan ini tapi tidak benar-benar
meyakininya hingga saat ini mereka melihatnya. Piano Street ini cukup ramai. Banyak
pejalan kaki yang melewati jalan ini, mungkin orang-orang ini yang habis atau
mau menuju toko-toko sekitar.
“Oppa!! Oppa!!”
Teriakan cewek-cewek Korea
mengalihkan perhatian Nae Ra dan RiHyun. Nae Ra dan RiHyun saling berpandangan
dan memutuskan untuk mengahmpiri arah suara tersebut.
“Siwon Oppa!!” “Teuki Oppa!!” Nae Ra terkejut mendengar teriakan itu dan
kemudian menghambur ke arah kerumunan itu juga. Belum sempat Nae Ra sampai ke
dalam kerumunan itu, Nae Ra mendapati lee Teuk sedang menatapnya. Kemudian
tersenyum lembut kepadanya. Senyum yang sungguh tidak bisa diartikan oleh
dirinya sendiri. Sedetik kemudian ia sadar dan
melihat sekeliling, tidak ada orang. Bahkan RiHyun sudah menjadi bagian
dari kerumunan tersebut.
Nae Ra memberanikan diri mendekati
kerumunan yang mulai terpecah menjadi beberapa bagian tersebut sambil
mengeluarkan secarik kertas dari note yang selalu berada di sakunya dan sebuah
sipdol hitam dari tempat yang sama. Ia mendekati kerumunan Lee Teuk dan
tiba-tiba saat ia baru saja ingin meminta tanda tangan dari Lee Teuk. Seseorang
menubruknya hingga membuatnya jatuh ke belakang. Nae Ra meringis. Dan mendapati
sebuah tubuh tepat berada di atasnya. Ia hampir saja pingsan saat mengetahui
siapa yang menimpa tubuhnya.
“Aaah, jwesong habnida jwesong
habnida.” Ucap Lee Teuk khas. Nae Ra terdiam. Speechless. Bingung. Senang.
Semuanya bercampur menjadi satu. Benar-benar tidak tahu apa yang harus ia
lakukan. Maksudnya, kau tahu kan bagaimana rasanya jika seorang selebriti
apalagi main biasmu tepat berada di depanmu dan meminta maaf padamu? Itulah
yang dirasakan oleh Nae Ra.
“Agasshi? Gwenchanhayo? Apa ada
yang sakit?” Lee Teuk melambaikan tangannya di depan wajah Nae Ra. Sedetik
kemudian, Nae Ra kembali sadar dan melompat menjauhi Lee Teuk.
“Eh? Aaah, gwenchanha. Gwenchanha.”
Jawab Nae Ra sedikit panik sambil menundukkan badannya pada Lee Teuk. Nae Ra
merasa canggung sekali lantaran kini ia yang menjadi pusat perhatian
orang-orang sekitar.
Nae Ra tersenyum kaku. Ia mendongak
dan mencari-cari
di mana RiHyun berada. Saat ia mengetahui bahwa RiHyun berada di kerumunan
Eunhyuk, ia menundukkan kepalanya sekali lagi kepada Lee Teuk dan tersenyum. Meninggalkan
Lee Teuk yang masih berdiri speechless.
***
“Hyeong, kau lagi ngapain sih? Dari
tadi diem aja.” Senggol Eunhyuk.
“Ah, anni.. aku masih tidak percaya
dengan kejadian tadi. Bisa-bisanya itu cewek ninggalin aku sendirian. Tanpa
mengucapkan apa-apa. Hanya sebuah kata ‘gwenchanha’. Dan kemudian ngilang? Yang
bener aja.”
“Geurae? Tapi sepertinya kau
terlihat tertarik dengan gadis itu Hyeong? Aku salah?”
Eeteuk
hanya menggeleng dan kembali menatap Eunhyuk, kemudian melanjutkan, “Kau
tadi gak liat gimana ekspresinya sih. Polos sekali dia. Tapi, sepertinya dia bukan dari sini.
Wajahnya bukan wajah orang Korea.”
“Jinjja? Lalu? Oh iya tadi juga ia
mengajak salah satu fansku. Menurutmu, mereka orang mana?”
“Entahlah, Malaysia mungkin? Atau
mungkin juga Indonesia.” Lee Teuk menyendokkan es krimnya yang terakhir ke
dalam mulutnya.
“Hyeong, besok kita jadi mau ada
interview sama salah satu majalah Indonesia?”
“Jadi. Manajer sendiri kan yang
bilang? Abis itu penampilan come back kita di Music Bank.” Ucap Lee Teuk,
matanya masih tertuju dengan pemandangan di luar restoran. Pikirannya melayang
ke saat di mana ia melihat Nae Ra untuk pertama kalinya. Wajah yang bulat,
putih dengan bola mata coklat yang menempel pada matanya dan rambutnya yang
terurai sebahu. Tanpa sadar, seulas senyum merekah di bibirnya. Dan tanpa Lee
Teuk sadari juga, ia berharap bisa bertemu dengan Nae Ra lagi.
***
Nae Ra dan RiHyun akhirnya sampai di hotel. Mas Bayu dan yang lain
sudah menunggu mereka cemas di sofa ruang tamu hotel tersebut. Nae Ra dan juga
RiHyun langsung meminta maaf dan menjelaskan kalau mereka sempat nyasar, tapi
untunglah bisa kembali berkat keberanian RiHyun bertanya pada orang-orang. Tentu
saja Nae Ra tidak menceritakan soal Lee Teuk yang menubruknya.
“Ya sudahlah, lebih baik kalian
istirahat dan makan malam. Persiapkan diri kalian untuk interview besok. Oh
iya, besok itu kita interviewnya bukan di gedung SM Ent nya, tapi di gedung
Music Bank. Soalnya Super
Junior besok bakal ngadain comeback stage-nya mereka.
Apa ada pertanyaan?” Mas Bayu, selaku atasan mereka menjelaskan pada mereka.Semuanya
mengangguk setuju, termasuk juga Nae Ra dan RiHyun yang terlihat kelelahan
sekali. Mereka berdua
langsung
bergegas menuju kamar mereka setelah diberi kunci oleh Mas Bayu.
***
Omonaaaa~
Gimana nih? Tadi aku compong banget pas Teuki oppa bicara padaku. Kenapa aku
bersikap compong gitu tadi? Aish, gimana pas besok interview? Yaaa, aku tidak
bisa membayangkannya. Ah, biarkan saja. Toh Teuki oppa pasti sudah melupakan
kejadian tadi. Mungkin saja ia sudah tidak mengingatku lagi bukan?Oke, lebih
baik sekarang aku tidur dan melupakan semuanya. Lu-pa-kan.
***
Gedung Music Bank, Seoul, 17.00 KST
Nae Ra dan yang lainnya memasuki
gedung MuBank itu dan langsung menuju back stagenya, tempat di mana Super
Junior berada menunggu saat mereka tampil. Nae Ra merasa jantungnya hampir
berhenti berdetak saat memasuki ruangan itu dan mendapati Lee Teuk sedang
bercanda dengan member lainnya.
“Annyeong Haseyo Super Junior. Kami
dari Majalah.....” Mas Bayu memperkenalkan mereka semua satu per satu. Yesung
langsung menyambutnya dan berbincang sedikit dengan Mas Bayu. Sekarang giliran,
RiHyun dan dirinyalah yang harus melakukan wawancara seputar album baru mereka.
Nae Ra mengambil kursi di sebelah Mas Bayudan RiHyun kemudian
melihat ke arah Super Junior. Dan sekali lagi, Nae Ra mendapati Lee Teuk sedang
berbisik-bisik tertawa bersama Eunhyuk. Apakah Lee Teuk masih mengingatya? Apa
sekarang ia malah sedang mentertawakan dirinya? Gagasan itu tiba-tiba saja muncul
di benak Nae Ra. Ia langsung melihat ke arah RiHyun yang dibalas RiHyun dengan
sebuah anggukan. Aigo, eotteokhaeyo?
Batin Nae Ra.
***
“Teuki hyeong... Coba lihat siapa
yang datang?” panggil Eunhyuk. Lee teuk langsung menghampiri Eunhyuk dan
melihat ke arah yang ditunjuk eunhyuk.
Lee Teuk mengerutkan dahinya
kemudian tersenyum senang. Ternyata harapannya kemarin dikabulkan. Ia langsung
mengambil barisan paling depan bersama Eunhyuk dan muali berbisik,
“Eunhyuk-ah.. Kau tahu? Sepertinya
dia jodohku. Hahaha”
“Kau yakin hyeong? Jangan terlalu
percaya diri. Siapa tahu dia ternyata fansku?”
“Yaa! Eunhyuk-ah. Kalau memang
begitu–”
Lee teuk melirik ke arah Nae Ra yang masih fokus dengan ucapan Yesung dan
tertawa sendiri. Lee Teuk mencoba memperhatikan interview yang sedang berjalan
sambil sesekali melempar pandangan pada Nae Ra. Lee Teuk lantas melanjutkan, “Kalau emang begitu..
aku akan membuatnya mennyukaiku dan menjadi fansku. Hahaha” jawab Lee Teuk
santai, kemudian melirik kea rah Nae Ra lagi. Ya Tuhan,
sungguh, semua orang pasti bisa melihat raut wajah Nae Ra yang berubah menjadi
merah saking malunya ketika
mendapati Lee Teuk sedang memperhatikannya kembali.
Kenapa
gadis ini begitu lucu? Batin Lee teuk.
***
Riuh suara penonton di dalam gedung
MuBank menyambut penampilan Super Junior. Album mereka yang terbaru benar-benar
membuat para Elf bersorak sorai lantaran penampilan mereka yang berbeda dengan
sebelumnya.
Super Junior memasuki stage-nya.
Ya, Nae Ra melihatnya. Ia dan juga RiHyun menjadi salah satu Elf yang juga ikut
meramaikan suasana di dalam gedung tersebut. Mereka berdua tidak kalah
berteriak memanggil nama bias mereka. Kemudian suasana di sekitar mereka mulai
hening saat musik dimulai.
“RiHyun-ah. Aku tidak percaya bisa
menonton mereka secara live. Ini pertama kalinya. Naega jeongmal.. Aigo, aku
senang sekali!!”
Suara para ELF menggema di seluruh
ruangan. Light stick warna Biru Safir mulai menyerupai lautan. Super Junior
benar-benar meriuhkan suasana. Sepanjang performance mereka, tidak
henti-hentinya ELF meneriaki nama Super Junior. Ada juga yang berteriak nama biasnya masing-masing.
“Nae Ra. Lihat, Teuki oppa keluar
stage dan menuju kemari. Nae Ra. Nae Ra!!” teriak RiHyun.
“Mworago?? Hah? Teuki oppa mau
ngapain, mau ke siapa?”
“Aku bertemu dengan seorang gadis
imut kemarin sore.” Lee Teuk mulai berbicara sembari keluar panggung. Kemudian
melanjutkan “Awalnya memang salahku yang menubruknya hingga ia terjatuh. Tapi.. satu yang membuatku merasa
speechless dan sangat keheranan. Bagaimana bisa
ia meninggalkanku begitu saja? Aku kan orang penting di sini. Hahaha.”
“Hyeong!! Aku lebih penting
darimu..” komentar salah satu member Suju lainnya, Lee Dong Hae.
“Aaaaah, gadis itu di mana yah?
Harusnya ia melihatku saat ini. Nah itu dia.” Lee teuk mulai menghampiri Nae Ra
yang membuat Nae Ra benar-benar panik.
Nae Ra menahan napasnya ketika Lee
Teuk membicarakan kejadian kemarin sore. Apa-apaan
ini? Aku tidak sedang bermimpi kan? Teuki oppa, apa kau serius dengan ucapanmu?
Rasanya Na Ra ingin lari dan kabur entah ke mana
ketika ia tahu bahwa Lee Teuk semakin
mendekatinya. Menghampirinya. Mau apa sih Lee Teuk ini? Membuat jantung Nae Ra
hampir berhenti saja.
Lee Teuk berdiri di hadapan Nae Ra
dan mengajaknya menuju panggung. Nae Ra menatap Lee teuk dan tiba-tiba saja menerima uluran tangan Lee Teuk.
Mereka menuruni tangga kursi penonton dan menuju stage, member Super Junior
lainnya menyoraki Lee
Teuk dan tertawa heran.
Saat hendak memasuki panggung,
tiba-tiba saja kaki Nae Ra tersandung yang menyebabkannya kehilangan
keseimbangan. Ia mencoba meraih tangan Lee Teuk namun ia tetap jatuh. Kejadiannya terasa cepat sekali
sampai-sampai Nae Ra tidak menyadari apa yang baru saja ia perbuat. Sedetik
kemudian, Nae Ra sadar dan mendongak. Kemudian ia mendapati sobekan lengan Baju
Lee teuk ada di tangannya. Ia lalu melihat ke arah Lee Teuk yang menatapnya
diam, berusaha menahan rasa malu yang diterima dari penonton yang mulai tertawa
namun seketika itu juga suasana langsung hening.
Eunhyuk, Donghae dan yang lainnya yang pada awalnya tertawa puas kemudian
segera menghampiri Lee Teuk untuk
menutupinya. Sedangkan Nae Ra? Matanya mulai memanas dan berkaca-kaca. Ia
tidak tahu apa yang baru saja ia perbuat. Penonton mulai ribut dan sebagian
dari mereka menyoraki Nae Ra.
Beberapa saat kemudian, beberapa
pengawal yang mungkin dari pihak Music Bank membawa Nae Ra ke belakang panggung
dan menenangkannya. Mas Bayu, Ri Hyun langsung bergegas menuju back stage untuk
menenangi Nae Ra.
Suasana kembali normal setelah MC
memasuki stage dan mengalihkan pembicaraan kepada Super Junior lainnya, Lee
Teuk juga kembali ke panggung setelah
mengganti kostumnya.
Lee Teuk tersenyum kepada ELF si
seluruh ruangan dan berusaha mencairkan suasana. Sambil sesekali, mencari-cari
di mana Nae Ra berada. Namun ia tidak mendapati Nae Ra ditempatnya ataupun di
sudut ruangan lainnya.
***
Seoul, 30 April 2012, Saat ini.
“Annyeong.
Kim Nae Ra?”
Sebuah
suara yang keluar dari laki-laki tersebut menyadarkan lamunan Naera. Ia
kemudian berkedip. Sekali. Dua kali. Tidak, tidak, bahkan lebih dari sepuluh
kali. Nae Ra masih harus mencerna wujud dan bentuk laki-laki yang dihadapannya
dan kemudian berkata,
“ Teuki oppa? Eomeona! Apa aku
bermimpi saat ini?”
“Anni.. kau tidak bermimpi. Aku,
Lee Teuk, memang ada di sini.” Ucapnya sambil melipat kedua lengannya dan tentu saja, sambil
tersenyum.
“Untuk apa? Ah, geurae. Oppa,
jwesong habnida. Jwesong habnida telah membuatmu malu kemarin. Aku tidak
bermaksud-apa-apa padamu.”
“Aku tidak mau memaafkanmu. 2 kali
kau membuatku speechless dan malu di depan umum, dan sekarang aku menuntutmu.” Ucap
Lee Teuk santai. Ia kemudian duduk di bangku sebelah Nae Ra dan kembali
menatapnya.
“Mwo? Jinjja? Oppa, naega jeongmal
dangsineul mianhaeyo. Mianhaeyo oppa. Jinjja mianhaeyo L”
“mm, gimana yah? Aku akan
memaafkanmu tapi
dengan 1 syarat.” Jawab le Teuk yang membuat Nae Ra terkesiap.
“Eo. Apa syaratnya?”
“Aku mau kau berkencan denganku.”
“MWORAGO??? Au, aku masih sadar ternyata.” Nae Ra mencubit
pipinya sendiri. Lee Teuk hanya menatapnya tertawa sambil menggelengkan kepala.
Heran dengan tingkah gadis yang berada di sebelahnya ini.
“jadi, apakah kau mau berkencan denganku?” Lee Teuk
beranjak berdiri dan mengulurkan tangannya sekali lagi. Kali ini Nae Ra
berpikir keras. Bertanya-tanya dalam hati apakah Lee Teuk benar-benar ingin
mengajaknya berkencan atau malah ia ingin balas dendam atas kejadian kemarin
yang diperbuatnya.
Lee teuk melihat sorot mata ragu pada Nae Ra dan
kemudian kembali duduk di sebelah Nae Ra. Ia tersenyum dan mendekatkan dirinya
ke telinga Nae Ra.
“Aku serius. Sungguh dan tidak mempunyai niat buruk
sama sekali.”
Seberkas senyum menghiasi wajah Nae Ra. Entah
kenapa, kata-kata Lee Teuk terasa benar dan jujur. Nae Ra menjulurkan tangannya
kepada Lee Teuk yang disambut hangat oleh Lee Teuk. Tidak ada sedikitpun
keraguan diantara mereka berdua. Mereka berjalan, menari dan bercanda dia atas
tuts tuts piano di Piano Street.
***
Jakarta, 20 Februari 2013
Kring..
Kring.. Kring...
Dering ponsel Nae Ra membuyarkan lamunannya. Ia
masih berkutat dengan project kantornya yang harus ia selesaikan hari ini juga.
Tapi masalahnya adalah, hari ini hari ulang tahunnya dan ia tidak bisa ke
mana-mana. Ditambah lagi, Lee Teuk sama sekali tidak meneleponnya hari ini. Benar-benar
hari yang menyebalkan.
“Yoboseyo, Nae Ra-ssi.” Sebuah suara membuat Nae Ra
terlonjak kaget dan bangun dari kursinya. Ia tidak percaya.
“Oppa? Oppa waee..? Kenapa baru meneleponku
sekarang?” tanya Nae Ra sedih.
“Mianhae.. Dari kemarin aku sibuk menyiapkan
sesuatu. Bagaimana kabarmu hari ini?”
“Naega? Baik-baik saja. Oppa sendiri bagaimana?”
“Aku capek sekali.. Tapi tidak apa, mendengar
suaramu saja rasa capekku hilang semuanya.”
“Jinjja? Aku tidak percaya dengan gombalanmu, oppa.”
“Yaa! Eh, kau tumben hari ini cantik sekali.”
“Apa maksudmu? Memangnya kau bisa melihatku apa?
Mulai deh oppa -_-“
“Sungguh. Apa mungkin akunya saja yang sudah lama
tidak melihatmu Nae Ra-ah? Hei, coba lihat ke arah jam 2. Kau pasti akan..”
Tanpa memperdulikan ucapan Lee teuk selanjutnya, Nae Ra langsung melihat ke arah jam 2 dan
mendapati Lee Teuk berdiri di sana, memegang sebuah kue ulang tahun untuknya.
“menemukanmu..” Nae Ra menghampiri Lee Teuk yang
disambut Lee Teuk dengan cengiran khasnya. Membuat pegawai kantor lain iri
dengan Nae Ra.
“Annyeong oppa. Kau tidak bilang padaku kalau mau ke
sini.”
“Kalau aku bilang, itu bukan surprise namanya.
Saengil chukkahae Nae Ra-ah. Saranghae.” Ucap Lee Teuk, kemudian mendaratkan
bibirnya ke pipi kanan Nae Ra. Riuh suara pegawai lainnya membuat Nae Ra
semakin senang sekaligus malu. Ingin sekali ia memeluk Lee Teuk saking
senangnya.
“Tunggu sebentar. Kau harus berdoa dulu sebelum
meniup kue ulang tahunmu.”
“Ah, Ne!! Baiklah.”
Ya Tuhan, terima
kasih karena telah mengirimkanku Teuki oppa. My charming prince in my life.
Semoga, kami tetap bersama dan semoga ia tetap berada di sampingku. Untuk saat
ini dan selamanya..
The
End
Tidak ada komentar:
Posting Komentar