Hai
Maret! Kita bertemu kembali.
Kira-kira
tepat tiga tahun yang lalu saat aku kembali sibuk di duniamu. Saat aku dan
seluruh orang yang seusiaku di negeri ini mulai sibuk mempersiapkan masa
depannya. Sama persis. Hanya saja, kali ini aku benar-benar muak dengan
semuanya.
Tidak
seperti tiga tahun yang lalu. Ketika aku
masih bisa menikmati udara segar pagi hari, lembutnya tempat tidur yang selama
ini menemaniku dan tertawa dengan lepas. Rasanya seperti tidak ada beban yang
mennghalangiku. Aku benar-benar merasa bebas dengan semuanya. Seolah semuanya
terjamin. Seolah saat aku menginginkan suatu hal, itu akan terjadi dengan
sendirinya. Dan memang terjadi. Namun saat ini, terbalik seratus delapan puluh
derajat. Rasanya seperti aku terombang-ambing tanpa memiliki satu pegangan pun
di sekitarku.
Entah
mengapa saat ini aku merasa ragu. Ragu akan semuanya. Ragu saat aku merasa
yakin sekali aku akan siap menghadapi semuanya. Kau tahu kan bagaimana rasanya
ketika kau sudah mantap akan pilihanmu dan hanya tinggal maju ke depan,
menyusuri jalan setapak hidupmu, menyongsong semuanya tetapi tiba-tiba sesuatu
menghalangimu untuk maju. Untuk melangkah bahkan hanya satu meter?
Sayangnya,
hal itu sedang aku rasakan.
Aku
tidak tahu apa yang mendasari rasa itu muncul. Lagi-lagi, aku mengulang tiga
tahun yang lalu. Lagi-lagi aku meremehkan semuanya. Lagi-lagi aku jatuh dalam
kasus yang sama. Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?
Menunggu
waktu?
Mempersiapkan
segala sesuatunya?
Bagaimana
jika waktu itu sendiri tidak mau bersahabat denganku? Ah Maret, andai kau jadi
aku dan aku jadi dirimu.
Bolehkah
aku berkata satu hal padamu?
“Tolonglah
aku.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar