Sabtu, Maret 02, 2013

Dua Kata


Hai Maret!  Kita bertemu kembali.

Kira-kira tepat tiga tahun yang lalu saat aku kembali sibuk di duniamu. Saat aku dan seluruh orang yang seusiaku di negeri ini mulai sibuk mempersiapkan masa depannya. Sama persis. Hanya saja, kali ini aku benar-benar muak dengan semuanya.
Tidak seperti tiga tahun  yang lalu. Ketika aku masih bisa menikmati udara segar pagi hari, lembutnya tempat tidur yang selama ini menemaniku dan tertawa dengan lepas. Rasanya seperti tidak ada beban yang mennghalangiku. Aku benar-benar merasa bebas dengan semuanya. Seolah semuanya terjamin. Seolah saat aku menginginkan suatu hal, itu akan terjadi dengan sendirinya. Dan memang terjadi. Namun saat ini, terbalik seratus delapan puluh derajat. Rasanya seperti aku terombang-ambing tanpa memiliki satu pegangan pun di sekitarku.

Entah mengapa saat ini aku merasa ragu. Ragu akan semuanya. Ragu saat aku merasa yakin sekali aku akan siap menghadapi semuanya. Kau tahu kan bagaimana rasanya ketika kau sudah mantap akan pilihanmu dan hanya tinggal maju ke depan, menyusuri jalan setapak hidupmu, menyongsong semuanya tetapi tiba-tiba sesuatu menghalangimu untuk maju. Untuk melangkah bahkan hanya satu meter?

Sayangnya, hal itu sedang aku rasakan.

Aku tidak tahu apa yang mendasari rasa itu muncul. Lagi-lagi, aku mengulang tiga tahun yang lalu. Lagi-lagi aku meremehkan semuanya. Lagi-lagi aku jatuh dalam kasus yang sama. Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?

Menunggu waktu?

Mempersiapkan segala sesuatunya?

Bagaimana jika waktu itu sendiri tidak mau bersahabat denganku? Ah Maret, andai kau jadi aku dan aku jadi dirimu.
Bolehkah aku berkata satu hal padamu?

“Tolonglah aku.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar