Rabu, April 17, 2013

Hari Itu

“Kenapa?”

Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibirku. Padahal, banyak sekali pertanyaan yang harus aku ajukan padanya. Iya, harus. Tapi, malah hanya satu kata dan itu memang konyol. ‘kenapa’ ya ampun, pikiranku sudah tidak karuan lagi sekarang.

“Kenapa ya.. apa aku harus menjawab?” dia hanya menatapku dalam. Mimik wajahnya menyiratkan seolah-olah ia akan berkata ‘halo.. kamu udah pasti tau apa alasannya.’ Tapi memang begitulah dia. Penuh dengan teka-teki. Tidak, ini tidak lebay, tapi memang begitulah ia. Tidak pernah menunjukkan benar-benar maksud dari ucapannya. Padahal tidak semua orang bisa seperti dirinya. Tidak semua orang mempunyai jiwa detektif bukan? Dan kesalahan terbesar adalah ia menganggapku sama sepertinya.

“Menurutmu? Memangnya kau pikir begini itu jalan yang terbaik? Kalaupun iya, itu menurutmu! Tapi tidak denganku!” emosiku membuncah dan rasanya aku ingin menangis. Harusnya ia tidak bersikap begini. Harusnya ia bisa mengerti aku. Iya, harusnya. Tapi aku bukan siapa-siapa dan aku sadar bahwa aku hanyalah seorang gadis pengecut yang tidak mau menerima kenyataan.

“Jadi harusnya gimana?”

“Dengar. Aku bukan kau, Kris. Aku bukan kau yang maniak detektif. Aku tidak pernah bisa mengerti maksud ucapanmu. Kalaupun aku bisa, aku butuh waktu setidaknya 1 bulan untuk mengerti. Memecahkan arti ucapan-ucapanmu. Dan sekarang kau mau aku seperti itu lagi? Mau sampai kapan? Gak penting tau gak sih!”

Ia hanya diam. Entah apakah ia tidak bisa menjawab semua ucapanku, membantahnya atau ia masih sengaja mempermainkan aku. Aku tidak peduli lagi. Tapi kemudian ia tersenyum, meskipun aku tidak melihat wajahnya, tapi aku tahu ia sedang tersenyum padaku.

“Kamu tahu betul bahwa sampai saat ini aku menyukaimu Irish. Kamu juga tahu arti tulip merah yang aku sandingkan dengan tulip putih beberapa minggu yang lalu, yang aku berikan padamu.”
Aku masih diam. Membelakanginya.

“Tapi ternyata, aku masih belum bisa melepaskanmu.” Suaranya terdengar lirih, padahal ia sudah berdiri di sampingku.  Aku masih tidak menjawab. Membiarkan pandanganku kosong. Memandang jalan raya dari lantai 2 sekolah kami. Ia menoleh padaku,

“Maaf ya. Maaf kalau aku membuatmu merasa sakit hati seperti ini. Tapi, inilah satu-satunya cara agar aku bisa melepaskanmu.”

Krak.

Iya, patah. Retak. Rasanya seperti itu ketika ia mengucapkan semua hal itu. Air mataku tidak dapat dibendung lagi dan semuanya tumpah. Tetapi ia masih berdiri di sampingku. Tidak menoleh padaku juga. Ia hanya memandang ke arah yang sama yang aku pandang.

Inikah caranya menghiburku? Payah. Aku benar-benar payah. Kenapa juga harus menangis seperti ini. Padahal aku sudah berjanji padanya untuk tidak menangis. Tapi aku tidak bisa menepati janjinya.

“Harus ya kau menjauhiku seperti ini? Lebih baik kau memusuhiku sekalian daripada kau hanya diam dan menjauh dariku.” Aku berkata di sela tangisku.

“Aku tidak punya pilihan.” Jawabnya singkat.

“Siapa yang bilang? Selalu ada pilihan.” Balasku kukuh. Tuhan saja selalu memberikan pilihan pada makhluknya. Kenapa dia tidak?

“Contohnya?”

“Aku mengetahui kau, Kris. Kita sama. Iya, dari awal kita sudah memilih untuk tidak bersama, meski aku menyukaimu sampai saat ini, begitu juga kau. Meski aku dan kamu sudah saling melepaskan satu sama lain. Meski kau membiarkan aku pergi ke negeri seberang dan kau ke negeri seberang yang lain juga. Tapi tidakkah kau memberikan waktu untuk kita bersama menjelang kelulusan kita? Memanfaatkan waktu sebanyak mungkin untuk aku bersama denganmu? Kau tidak bisa kan ya? Aku terima. Tapi yang tidak habis aku pikir adalah mengapa kau harus menjauhi seperti ini? Tidak bisakah kita bersikap ‘biasa saja’ seperti yang lain?”

“Awalnya aku juga berpendapat demikian Irish. Tapi aku tidak bisa. Itu menyiksaku.”

“Kau pikir dengan bersikap seperti ini, kau tidak menyiksaku?! Ini gak adil Kris.” Air mataku sudah menyusut, digantikan dengan rasa jengkel dan kecewa yang sangat mendalam. Lagi-lagi ia memberiku pilihan yang sulit. Memberi teka-teki untuk aku selesaikan. Padahal jawabannya sudah ada, aku tidak bisa menyelesaikannya.

Ia menatapku. Mengambil napas panjangnya. Mengeluarkannya perlahan dan ia berbalik,

“Yah, aku hanya bisa bilang, Maafkan aku, Rish. Maafkan aku. Semoga kau bisa mengerti suatu hari nanti.”

Iya, hari itu, saat itu, detik itu. Ia langsung pergi meninggalkanku sendirian.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar