Rabu, Agustus 07, 2013

She is My Girlfriend (Chapter 5)

Sebenarnya ia juga tidak mengerti mengapa ia tidak mau bertemu lagi dengan Kyuhyun. Padahal RinAh tau, ia hanya bisa meminta tolong pada Kyuhyun. Karena memang hanya Kyuhyunlah yang bisa menolongnya. Tapi sekarang? Ia malah tidak mau bertemu dengan Kyuhyun. RinAh bahkan tidak ingin kembali ke apartemennya lagi. Eh, ralat. Apartemen milik Kyuhyun. Sudah cukup ia mempermalukan dirinya di hadapan Kyuhyun. Memintanya untuk menerimanya, bersikap baik padanya, atau tidak mengusirnya lagi tiap ia datang menemuinya.

Apa-apaan coba! Harusnya ia tidak bersikap seperti itu, harusnya ia tidak merendahkan dirinya seperti itu! Lagi pula siapa juga Kyuhyun itu? Setelah semua yang ia lakukan terhadap dirinya. Sekarang ia malah sakit hati melihat Kyuhyun sedih? Melihat Kyuhyun masih saja menomorsatukan gadis dari Girls Generation itu? Padahal kan.. Padahal, selama ini yang selalu bersama dia itu siapa? Rin Ah! Dirinyalah yang selalu datang menghibur Kyuhyun tiap kali ia patah hati akan Seohyun itu! Tapi Kyuhyun tidak pernah tidak memikirkan Seohyun. Bahkan mungkin kehadirannya pun tidak dianggap. Atau malah menganggu?

Ya, pasti mengganggu! Buktinya saja Kyuhyun selalu bersikap seperti itu kan kepadanya?

Aaaaaakh! Kau ini bodoh sekali sih, RinAh-ssi!

Jadi, hari ini RinAh membulatkan tekadnya untuk tidak kembali lagi pada Kyuhyun, mencari orang lain yang bisa membantunya. Atau kalau perlu, ia akan memeriksa ulang seluruh rumah sakit yang ada di Korea Selatan ini, mencari keberadaan tubuhnya. Lagi pula, gadis itu juga sudah memberitahunya jika ia berhasil menemukan tubuhnya sendiri, ia tidak perlu repot-repot meminta bantuan orang lain. Harus!

Meskipun akan sangat berat dan membuatnya lelah setiap hari. Tapi RinAh harus tetap berjuang. Setidaknya, kegiatan ini akan membantunya juga melupakan Kyuhyun kan? Iya kan?

Ia juga tidak perlu memikirkan tempat tinggalnya. Karena RinAh sadar, ia pun tidak tidur. Kalau ia lelah, ia bisa istirahat sebentar di taman, atau di rumah sakit, atau mungkin di apartemen-apartemen! Sehingga jika memang ada yang bisa membantunya, ia tidak perlu repot lagi kan?

Eh, tapi bagaimana jika orang itu tidak mau dan malah mengusirnya lagi? Aiish, RinAh bergidik ngeri. Tidak, tidak. Itu terlalu mengerikan. Ia tidak suka diperlakukan seperti itu (lagi) setelah Kyuhyun? No no no~

Lagi-lagi soal Kyuhyun. RinAh menghela napasnya perlahan. Ia merenung, sebenarnya seberapa pentingkah Kyuhyun untuknya? Setelah semua yang ia lakukan bersama Kyuhyun, RinAh sadar, hanya Kyuhyun satu-satunya teman yang ia miliki sejak.. sejak.. sejak ia menjadi arwah/hantu atau apapun itu. Iya, itu benar.

Dan kenyataan ini membuat nyeri di hatinya. Karena perasaan membutuhkan Kyuhyun hanya bertepuk sebelah tangan. Kyuhyun tidak membutuhkannya seperti ia yang membutuhkan Kyuhyun. Ia juga sadar, semenjak ia memutuskan untuk meninggalkan Kyuhyun, ia malah merasa kesepian. Sangat. Tapi bahkan sampai saat ini juga Kyuhyun tidak mencarinya kan?

Itu berarti ia tidak membutuhkan dirinya bukan? Aigoo, RinAh merasa seperti ditampar keras oleh pikiran-pikirannya. Tidak, ia tidak boleh memikirkan Kyuhyun terus. Tidak boleh.

*

Sudah kesekian kalinya ia mondar-mandir, mengelilingi Seoul, mendatangi satu per satu rumah sakit yang ada di Seoul, mengecek tiap ruangannya tetapi hasilnya nihil. Dan saat ini, energinya sudah terkuras habis. Ia lelah, tentu saja. Dan ia terlalu frustasi untuk melanjutkan pencariannya. Sedangkan waktunya pun tinggal sedikit lagi.

“Terlalu sia-sia ya aku? Yaa~ aku harus bagaimana lagi sih?” Gumam RinAh lesu. Haah, harusnya aku minta tolong saja kali ya pada Kyuhyun. Tapi sepertinya sudah terlambat. Tapi aku juga masih belum mau mati! Tidak, tidak. “Eotteokhae..” gumam RinAh seperti ingin menangis.

“Sudah kubilang kan, harusnya kau meminta bantuan pada seseorang. Kalau kau mencarinya dengan keadaan seperti ini. Mau sampai kapan kau bisa menemukan tubuhmu, hah?” suara perempuan tempo hari yang datang mengejutkan kembali hadir. RinAh menoleh, mencari-cari keberadaan perempuan itu tapi perempuan itu tidak terlihat di mana pun.

“Yaa! Aku di sini!”

RinAh tergelak, hampir saja melompat kabur begitu menyadari perempuan itu duduk tepat di sebelahnya. Sejak kapan?!

“Kau mengagetkanku.”

“Aku tahu. Dan memang sengaja hahaha. Lagipula, kau ini benar-benar konyol. Sebegitu tinggikah egomu sampai tidak mau sedikit saja mengalah, merendah agar mendapat bantuan?”

RinAh diam. Memang tidak sepenuhnya benar perkataan perempuan itu, tapi tetap saja sedikit membuat hatinya mencelos. “Dengar ya.. ini bukan soal harga diri. Kau tidak mengerti.” RinAh menghela napasnya lelah.

“Apanya yang tidak aku mengerti?”

“Kau ini.. padahal kita sama-sama perempuan tapi kenapa kau bahkan tidak bisa mengerti aku sih?!”

“Halo.. kau lupa? Aku ini malaikat pencabut nyawa, tidak sama denganmu. Pencitraanmu saja yang melihat aku sebagai seorang gadis.”

“Aigoo.. aku rasa aku sudah mulai gila sekarang.” Gumam RinAh frustasi. Setelah menguras tenaga seharian, ia juga harus meladeni gadis yang satu ini. Benar-benar hari yang buruk. Bukan. Bukan berarti RinAh tidak menyukainya, hanya saja ia sedang tidak ingin berbicara dengan siapapun.

“Kau tidak gila tenang saja. Sudahlah, ayo ikut aku.”

“Mwo??? Ikut kau? Tidak. Tidak mau! Aku masih belum mau mati.”

“Siapa bilang kau mati. Aku mendapat perintah dari bos-ku untuk mengembalikan jiwamu ke tubuhmu. Bagaimana?”

“Apa maksudmu?”

*

RinAh terperangah mendengar ucapannya. Dari sekian banyak kata-kata yang berputar di otaknya  yang harus ia tanyakan pada perempuan itu, saat ia harusnya merasa senang sekali, RinAh justru ragu mendengar tawaran perempuan itu. Apa sih maksudnya?!

Mengapa harus mendadak seperti ini?

Dan kenapa harus hari ini?

“Sudah jelas kan perkataanku? Kenapa? Kau tidak mau?”

“Bukan begitu.. aku hanya tidak mempercayai tawaranmu itu. Antara terlalu senang dan kaget.”

“Hahaha. Ada-ada saja. Jadi kau mau ikut aku tidak?”

RinAh hanya mengangguk, iya tidak bisa bersemangat karena jujur saja, ia benar-benar merasa lelah sekarang. Belum lagi ditambah ia harus berjalan menuju rumah sakit tempat tubuhnya berada. Tapi kenapa ia malah merasa semakin hampa?

“Tapi ada yang harus kau ketahui, kau tidak bisa mengingat apa yang terjadi selama kau menjadi arwah seperti ini. Kehidupanmu yang sekarang, kau tidak bisa mengingatnya. Meskipun ada kemungkinan kau akan bisa mengingatnya. Itu, hanya akan samar-samar. Sangat samar. Dan karena mengembalikan kau ke tubuhmu juga memerlukan energi yang sangat besar, kau akan merasa lelah sekali nanti, mungkin sedikit mati rasa karena kau, tenagamu yang terkuras habis juga hari ini. Tapi kau tenang saja, itu hanya berlangsung selama tiga hari, paling lama  tujuh hari. Itulah kenapa orang-orang yang terbangun dari koma seperti lumpuh. Jadi, aku sarankan untuk kau makan yang banyak, tetapi tidak berlebihan. Mengerti?”

RinAh sekali lagi hanya mengangguk. Tidak terlalu serius mendengarkan celotehan perempuan itu. 

Melupakan kehidupan yang sekarang?

Entah mengapa, hatinya terasa remuk. Melupakan kehidupannya sekarang, berarti melupakan Kyuhyun juga. Melupakan pertemanannya, melupakan bahwa ia pernah mengenal baik seorang penyanyi terkenal itu? Perasaan tidak enak itu muncul sekektika, membuat nyeri di hatinya, menumbuhkan sebuah rasa kecewa pada diri RinAh.

“RinAh-ssi?”

RinAh mendongak menatap perempuan itu. “Ne, arasseo.”

“Baguslah. Aku juga tidak tahu bagaimana mengatakannya ya. Tapi, yah. Semoga kau nanti bisa mengingatku meskipun kemungkinannya kecil sih. Eh, kau kenapa?”

“Aniya, gwenchanha..”

“Oh begitu. Ayolah, semangat. Aku tahu kau lelah, nanti kubantu. Sekarang kita harus ke kamarmu.”

“Kamar? Maksudmu? Sebentar.. jangan-jangan tubuhku ada di rumah sakit ini?”

“Itu benar! Hahaha”

“Apa-apaan nih. Serius deh kenapa kau tidak mengatakannya dari tadi?!”

“aku pikir kau sudah tahu.”

“Cih.. hey, aku sudah beberapa kali berurusan denganmu, tapi tidak pernah mnegetahui namamu.”

“Hahaha. Sudah kubilang aku yang kau lihat sekarang ini hanya pencintraanmu saja. Aku juga tidak mengerti mengapa kau memilih seorang gadis cantik untukku, tapi toh itu tidak ada gunanya. Tau gak? Aku pernah menjadi seorang laki-laki besar, seram dan jelek sekali. Kau tahu kan, suaraku berubah drastis menjadi besar dan berat. Dan sejujurnya aku juga tidak menyukainya sih haha. Dan asal kau tahu, aku pun masih belum mengerti bagaimana cara kerjanya hahaha. Imanjinasi manusia memang tidak pernah bisa ditebak.”

“ah benarkah? Em.. mungkin karena kau mirip seseorang yang penting di hidupku mungkin? Yasudahlah.. nama apa yang cocok untukmu... Em, Ha-Neul. Ha-neul.. oke. Aku panggil kau Haneul.”

“Ha.. neul?” tanyanya selidik. Sedikit menyiratkan ‘hey, kenapa harus nama itu?’

“Iya.. menurutku cocok. Cantik. Seperti sosok kau yang sekarang” jawab RinAh sedikit bersemangat.

Mereka melanjutkan perjalanan mereka. Hingga akhirnya mereka berdua tiba di sebuah kamar dengan nomor 306 yang berada di lantai 4. Pantas saja. Tadi, RinAh belum sampai lantai ini untuk mencari tubuhnya.
“Haneul-ssi..” panggil RinAh

“Ne? Kenapa? Kau takut?”

“Eo.. geurae. Aku takut. Aku takut sekali juga grogi..”

“Grogi? Kenapa harus grogi? Takut kalau ternyata rupamu yang sekarang tidak sama dengan rupa tubuh aslimu? Hahaha, itu tidak mungkin. Oke? Jadi tenanglah sedikit. Kalau kau takut, itu akan mempersulitku membantumu.”

“Tunggu sebentar. Banyak hal yang harus aku tanyakan padamu. Setidaknya sebelum ingatanku hilang untuk yang sekarang.”

“Tidak. Tidak ada pertanyaan. Itu dilarang.”

“Oh ayolah..”

“Aku bilang tidak.

“Jebal... Haneul-ssi jebal.. Haneul-ssi kalau kau mau menjawab pertanyaan-pertanyaanku.. tidak, tidak. Satu saja. Kau akan terlihat sangat cantik. Beneran deh. Ya ya ya?”

“Cih. Bukankah kau sendiri yang membuatku cantik? Hahaha. Tidak. Ayo, cepat masuk.” Ha-neul menarik tangan RinAh untuk masuk ke kamar tersebut.

“Haneul-ssi.. kenapa aku diizinkan untuk hidup kembali tanpa mendapat bantuan dari seorang pun?”

“Anak ini.. susah sekali ya.
“Itu karena.. bosku melihat bahwa semangat hidupmu memang besar. Dan dia juga bilang, bahwa takdirmu sangat indah nantinya. Jadi dia membiarkan dirimu utnuk hidup. Mengerti?”

“Baiklah. Meskipun aku akan melupakan seluruh kenanganku saat aku menjadi arwah.”

“Meskipun kau kehilangan seluruh memorimu saat ini. Percayalah padaku”

“Juga soal Kyuhyun?”

“hey.. kenapa kau tiba-tiba bertanya soal Kyuhyun? Ah, aku tahu. Kau menyukai Kyuhyun ya, RinAh-ssi? Benar kan? Aku sudah menduganya dari tadi. Dari raut wajahmu, dari sikapmu yag tidak begitu senang ketika aku tawarkan ingin hidup kembali. Dari ketakutanmu itu. Iya kan, kau takut kau lupa pada Kyuhyun. Kau takut memorimu akan Kyuhyun akan terhapus begitu saja. Benar kan?”

“Keugae.. Itu benar. Aku memang menyukainya. Tapi bahkan dia pun tidak pernah peduli padaku sih sebenarnya. Hanya saja, agak berat meninggalkan orang yang kau sayangi bukan?”

“Aku tidak tahu. Aku kan bukan manusia.”

“Ah, iya ya.. aku lupa! Jadi percuma saja aku bertanya padamu.”

“Memang percuma. Jadi, bagaimana? Kau masih mau kembali ke tubuhmu atau mau tetap seperti ini? Karena setelah hari ini, kau bukan tanggung jawabku lagi. Kau akan jadi bagian dari mereka.”

“Mereka?”

“Iya, mereka. Mereka yang jiwa dan tubuhnya terpisah. Tetapi tidak pernah bisa kembali. Mereka yang bahkan tidak bisa dikatakan mati ataupun hidup. Mereka yang kau sebut koma tapi tidak pernah sadar. Selamanya. Kalaupun keluarga mereka melepaskan mereka dan memilih untuk memakamkan mereka, tetapi tetap saja. Mereka tidak bisa kemanapun. Mereka akan selalu tersesat di dunia ini.”

“Kenapa hal itu bisa terjadi?” tanya RinAh setengah bergidik ngeri.

“Salah satu alasannya ya seperti kau saat ini. Tetapi kebanyakan mereka memilih seperti itu padahal aku dan rekanku yang lain sudah memperingatkan mereka. Tapi mereka tidak mengindahkannya.”

“Kenapa kau memberitahuku?”

“Oh, entahlah. Aku merasa perlu memberitahumu.”

“Baiklah..”

“Baiklah?”

“Aku mau kembali ke tubuhku.”

*

Ruangan itu terasa hangat. Hangat karena penghangat ruangan yang menyala juga karena terdapat kenyamanan yang luar biasa di ruangan itu. Kamar tempat tubuh RinAh berada.  Di sudut ruang, terdapat seorang wanita paruh baya yang sedang tidur di sebuah ranjang kecil yang disediakan rumah sakit tersebut, juga seorang wanita cantik yang masih muda. Raut wajahnya mirip dengan Ha-neul. Menemani wanita paruh baya itu tidur.

Mungkin mereka adalah ibu dan kakak perempuanku. Batin RinAh

Di samping tempat tidur, seorang laki-laki paruh baya –yang RinAh duga itu adalah ayahnya– tidur menemani RinAh. Juga seorang laki-laki muda cukup tampan, sepertinya itu adalah kakak laki-lakinya, sedang berdoa, mendoakan dirinya.

RinAh terperangah melihat semua ini. Ia sangat terharu melihat seluruh keluarganya selalu menemaninya. Akhirnya, untk pertama kalinya sejak ia menjadi arwah, ia merasa kalau ia tidak sendirian. Ia sangat bahagia dan tidak sabar untuk kembali ke tubuhnya dan kembali bersama mereka. Dan melupakan Kyuhyun. Itu pasti.

“Sepertinya dugaanmu memang benar. Aku dan wanita di sana sangat mirip” ucap Haneul

“Sepertinya..”

“Jadi, apa kau sudah siap?”

RinAh mengangguk.

“Baiklah, kita akan mulai semua ini. Ingat, ini akan menguras tenangamu. Juga tenagaku. Kita mulai.”

Haneul menutup matanya, mencoba berkonsentrasi. RinAh berada di sebelah tubuhnya. Satu tangannya berada diatas tangannya sedangkan tangan lainnya meraih tangan Haneul. Ada sedikit getaran listrik yang RinAh rasakan ketika ia menggenggam tangan Haneul. Ia tidak tahu apa yang Haneul lakukan karena matanya sendiri pun tertutup. Semakin lama getaran itu semakin cepat dan sedikit mengguncang tubuh arwahnya, semakin cepat hingga ia tidak berani membuka matanya tetapi ia tahu bahwa ia akan baik-baik saja dan ini akan segera berakhir.

“Dengar, RinAh-ssi. Energimu dan energi yang tersimpan di tubuhmu akan segera menyatu. Dan ketika getaran ini semakin melambat dan berhenti total. Kau sudah berada di tubuhmu. Kau akan kembali.”

RinAh sekali lagi mengangguk.

Getaran listrik itu sedikit menyakiti RinAh. Satu menit, dua menit, tiga menit.. RinAh bahkan tidak bisa merasakan kembali tubuhnya, arwahnya, bahkan ia tidak bisa merasakan bahwa dirinya menginjak bumi. Seperti mati rasa. Apakah ini yang dimaksud dengan mati rasa? Rasanya seperti melayang tidak keruan RinAh mengerang, ia lemas. Ia lelah. Sangat lelah. Getaran listrik itu ternyata menyerap secara terus-menerus tenaga RinAh hingga membuatnya tidak berdaya. Membuatnya kehilangan kendali atas tubuhnya. RinAh tidak sanggup lagi. Tidak sanggup, ia harus menghentikannya sekarang juga. Tapi, ia tetap memercayai Haneul. Hingga akhirnya, getaran itu mulai melambat. Melambat perlahan-lahan. Mengembalikan ia pada dirinya. Tetapi justru RinAh semakin merasa kehilangan tubuhnya. Merasa kaku. Dan getaran itu hilang. Menyisakan sedikit rasa sakit di dada dan  pemandangan yang kabur.. hingga kemudian gelap. Tetapi ia sempat mendengar suara Haneul.

“Selamat, RinAh. Kau kembali. Selamat tinggal.”

*

RinAh membuka matanya perlahan, mencoba mendapati fokus matanya agar pemandangan yang dilihatnya tidak kabur lagi. Mencoba menggerakkan tangannya sedikit demi sedikit. Ia mengerjapkan matanya sekali, dua kali, dan menoleh sedikit ketika seorang gadis cantik yang sangat ia sayangi menghampiri tubuhnya. RinAh tersenyum.

“Shin RinAh.. kau sudah sadar. Kau sudah sadar. Eomma, Appa, JongIn-ssi. RinAh sudah sadar.”

“Eonni-ah.. Aku di mana?”

“Kau di rumah sakit, sayang. Sudah ya, jangan banyak bertanya dulu. Aku harus memanggil dokter dulu, memberitahumu bahwa kau sudah sadar.”

“RinAh sayang.. akhirnya kau sadar juga, Nak. Appa sangat mengkhawatirkanmu.”

“Terima kasih, appa. RinAh sayang appa.”

Laki-laki bernama JongIn pun langsung menghampiri RinAh. RinAh menyunggingkan senyum lebar melihat wajahnya. Melihatnya menggenggam erat tangan RinAh, membuat RinAh merasa tentram.

“Aku sangat mengkhawatirkanmu, RinAh-ssi.” Ucap JongIn

“Maafkan aku. Aku tidak akan membuatmu khawatir lagi.”

“Sst.. jangan banyak bicara dulu, oke. Saranghae, RinAh-ssi.” Dan mendaratkan bibirnya di kening RinAh. RinAh memejamkan matanya, dan mengatakan

“Nado saranghae, JongIn-ssi.”

*

Kyuhyun mondar-mandir di apartemennya. Seperti mencoba mengingat-ingat dan mencari sesuatu yang hilang. Tidak biasanya ia terlihat seperti itu. Membuat hyeong-hyeongnya menatapnya curiga.

“Kyuhyun-ah. Kau kebelet pipis?” tanya Eunhyuk setengah meledek, membuat ia ditertawakan oleh member Super Junior lainnya.

“Ya, Eunhyuk-hyeong. Iya aku kebelet pipis banget. Kau mau mengantarku?”

“Omo.. adik kecil kita ini manja sekali. hahaha”

“Hyeong, plis deh. Aku sedang menunggu seseorang. Jadi jangan ngeledek lagi. Oke?”

“cupcucup. Siapa? Seorang gadiskah?” Siwon menghampiri Kyuhyun. Memegang pundak Kyuhyun dan menyuruhnya berhenti mondar-mandir. Agak risih juga sebenarnya melihat tingkah Kyuhyun hari ini.

“Lama-lama aku beneran bisa pipis di celana kalau kalian seperti ini terus hyeong.. Aku pergi dulu deh.”

“Yah ngambek nih orang. Yaa, neo odi e gamnikkha? (hei, kamu mau pergi ke mana?)” tanya Siwon.

“Aku mau mencari seseorang.”

“Siapa?”

“Seorang hantu.”

“Aigoo, adik kita ini tidak pernah serius kalau ditanya”

*

RinAh-ssi.. kau di mana.

Sungguh, aku minta maaf padamu.

RinAh-ssi kau bisa dengar aku tidak sekarang?

Karena biasanya kau selalu hadir begitu aku membutuhkanmu. Dan sekarang kau menghilang begitu saja.

Jeongmal.. Mianhae.

Kyuhyun terus-menerus bergumam dalam hati. Berharap, untuk kesekian kalinya, RinAh menyadari bahwa kata-katanya ini tulus dan ia benar-benar ingin minta maaf padanya.

RinAh-ssi.. kau tidak pernah seperti ini sebelumnya. Kau benar-benar marahkah? Kyuhyun bertanya dalam hati. Kali ini, Kyuhyun sadar. Bahwa RinAh memang sangat berarti untuknya.

“Haaah. Jadi, ke mana lagi aku harus mencarimu, RinAh-ssi. Karena aku benar-benar merindukanmu sekarang.”


***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar