Sebenarnya ia juga tidak mengerti mengapa ia tidak
mau bertemu lagi dengan Kyuhyun. Padahal RinAh tau, ia hanya bisa meminta
tolong pada Kyuhyun. Karena memang hanya Kyuhyunlah yang bisa menolongnya. Tapi
sekarang? Ia malah tidak mau bertemu dengan Kyuhyun. RinAh bahkan tidak ingin
kembali ke apartemennya lagi. Eh, ralat. Apartemen milik Kyuhyun. Sudah cukup
ia mempermalukan dirinya di hadapan Kyuhyun. Memintanya untuk menerimanya,
bersikap baik padanya, atau tidak mengusirnya lagi tiap ia datang menemuinya.
Apa-apaan coba! Harusnya ia tidak bersikap seperti
itu, harusnya ia tidak merendahkan dirinya seperti itu! Lagi pula siapa juga
Kyuhyun itu? Setelah semua yang ia lakukan terhadap dirinya. Sekarang ia malah
sakit hati melihat Kyuhyun sedih? Melihat Kyuhyun masih saja menomorsatukan
gadis dari Girls Generation itu? Padahal kan.. Padahal, selama ini yang selalu
bersama dia itu siapa? Rin Ah! Dirinyalah yang selalu datang menghibur Kyuhyun
tiap kali ia patah hati akan Seohyun itu! Tapi Kyuhyun tidak pernah tidak
memikirkan Seohyun. Bahkan mungkin kehadirannya pun tidak dianggap. Atau malah
menganggu?
Ya, pasti mengganggu! Buktinya saja Kyuhyun selalu
bersikap seperti itu kan kepadanya?
Aaaaaakh! Kau
ini bodoh sekali sih, RinAh-ssi!
Jadi, hari ini RinAh membulatkan tekadnya untuk
tidak kembali lagi pada Kyuhyun, mencari orang lain yang bisa membantunya. Atau
kalau perlu, ia akan memeriksa ulang seluruh rumah sakit yang ada di Korea
Selatan ini, mencari keberadaan tubuhnya. Lagi pula, gadis itu juga sudah
memberitahunya jika ia berhasil menemukan tubuhnya sendiri, ia tidak perlu
repot-repot meminta bantuan orang lain. Harus!
Meskipun akan sangat berat dan membuatnya lelah
setiap hari. Tapi RinAh harus tetap berjuang. Setidaknya, kegiatan ini akan
membantunya juga melupakan Kyuhyun kan? Iya kan?
Ia juga tidak perlu memikirkan tempat tinggalnya.
Karena RinAh sadar, ia pun tidak tidur. Kalau ia lelah, ia bisa istirahat sebentar
di taman, atau di rumah sakit, atau mungkin di apartemen-apartemen! Sehingga
jika memang ada yang bisa membantunya, ia tidak perlu repot lagi kan?
Eh, tapi bagaimana jika orang itu tidak mau dan
malah mengusirnya lagi? Aiish, RinAh bergidik ngeri. Tidak, tidak. Itu terlalu
mengerikan. Ia tidak suka diperlakukan seperti itu (lagi) setelah Kyuhyun? No
no no~
Lagi-lagi soal Kyuhyun. RinAh menghela napasnya
perlahan. Ia merenung, sebenarnya seberapa pentingkah Kyuhyun untuknya? Setelah
semua yang ia lakukan bersama Kyuhyun, RinAh sadar, hanya Kyuhyun satu-satunya
teman yang ia miliki sejak.. sejak.. sejak ia menjadi arwah/hantu atau apapun
itu. Iya, itu benar.
Dan kenyataan ini membuat nyeri di hatinya. Karena
perasaan membutuhkan Kyuhyun hanya bertepuk sebelah tangan. Kyuhyun tidak
membutuhkannya seperti ia yang membutuhkan Kyuhyun. Ia juga sadar, semenjak ia
memutuskan untuk meninggalkan Kyuhyun, ia malah merasa kesepian. Sangat. Tapi
bahkan sampai saat ini juga Kyuhyun tidak mencarinya kan?
Itu berarti ia tidak membutuhkan dirinya bukan?
Aigoo, RinAh merasa seperti ditampar keras oleh pikiran-pikirannya. Tidak, ia
tidak boleh memikirkan Kyuhyun terus. Tidak boleh.
*
Sudah kesekian kalinya ia mondar-mandir,
mengelilingi Seoul, mendatangi satu per satu rumah sakit yang ada di Seoul,
mengecek tiap ruangannya tetapi hasilnya nihil. Dan saat ini, energinya sudah
terkuras habis. Ia lelah, tentu saja. Dan ia terlalu frustasi untuk melanjutkan
pencariannya. Sedangkan waktunya pun tinggal sedikit lagi.
“Terlalu sia-sia ya aku? Yaa~ aku harus bagaimana
lagi sih?” Gumam RinAh lesu. Haah,
harusnya aku minta tolong saja kali ya pada Kyuhyun. Tapi sepertinya sudah
terlambat. Tapi aku juga masih belum mau mati! Tidak, tidak. “Eotteokhae..”
gumam RinAh seperti ingin menangis.
“Sudah kubilang kan, harusnya kau meminta bantuan
pada seseorang. Kalau kau mencarinya dengan keadaan seperti ini. Mau sampai
kapan kau bisa menemukan tubuhmu, hah?” suara perempuan tempo hari yang datang
mengejutkan kembali hadir. RinAh menoleh, mencari-cari keberadaan perempuan itu
tapi perempuan itu tidak terlihat di mana pun.
“Yaa! Aku di sini!”
RinAh tergelak, hampir saja melompat kabur begitu
menyadari perempuan itu duduk tepat di sebelahnya. Sejak kapan?!
“Kau mengagetkanku.”
“Aku tahu. Dan memang sengaja hahaha. Lagipula, kau
ini benar-benar konyol. Sebegitu tinggikah egomu sampai tidak mau sedikit saja
mengalah, merendah agar mendapat bantuan?”
RinAh diam. Memang tidak sepenuhnya benar perkataan
perempuan itu, tapi tetap saja sedikit membuat hatinya mencelos. “Dengar ya..
ini bukan soal harga diri. Kau tidak mengerti.” RinAh menghela napasnya lelah.
“Apanya yang tidak aku mengerti?”
“Kau ini.. padahal kita sama-sama perempuan tapi
kenapa kau bahkan tidak bisa mengerti aku sih?!”
“Halo.. kau lupa? Aku ini malaikat pencabut nyawa,
tidak sama denganmu. Pencitraanmu saja yang melihat aku sebagai seorang gadis.”
“Aigoo.. aku rasa aku sudah mulai gila sekarang.”
Gumam RinAh frustasi. Setelah menguras tenaga seharian, ia juga harus meladeni
gadis yang satu ini. Benar-benar hari yang buruk. Bukan. Bukan berarti RinAh
tidak menyukainya, hanya saja ia sedang tidak ingin berbicara dengan siapapun.
“Kau tidak gila tenang saja. Sudahlah, ayo ikut
aku.”
“Mwo??? Ikut kau? Tidak. Tidak mau! Aku masih belum
mau mati.”
“Siapa bilang kau mati. Aku mendapat perintah dari
bos-ku untuk mengembalikan jiwamu ke tubuhmu. Bagaimana?”
“Apa maksudmu?”
*
RinAh terperangah mendengar ucapannya. Dari sekian
banyak kata-kata yang berputar di otaknya
yang harus ia tanyakan pada perempuan itu, saat ia harusnya merasa
senang sekali, RinAh justru ragu mendengar tawaran perempuan itu. Apa sih maksudnya?!
Mengapa harus mendadak seperti ini?
Dan kenapa harus hari ini?
“Sudah jelas kan perkataanku? Kenapa? Kau tidak
mau?”
“Bukan begitu.. aku hanya tidak mempercayai
tawaranmu itu. Antara terlalu senang dan kaget.”
“Hahaha. Ada-ada saja. Jadi kau mau ikut aku tidak?”
RinAh hanya mengangguk, iya tidak bisa bersemangat
karena jujur saja, ia benar-benar merasa lelah sekarang. Belum lagi ditambah ia
harus berjalan menuju rumah sakit tempat tubuhnya berada. Tapi kenapa ia malah
merasa semakin hampa?
“Tapi ada yang harus kau ketahui, kau tidak bisa
mengingat apa yang terjadi selama kau menjadi arwah seperti ini. Kehidupanmu
yang sekarang, kau tidak bisa mengingatnya. Meskipun ada kemungkinan kau akan
bisa mengingatnya. Itu, hanya akan samar-samar. Sangat samar. Dan karena
mengembalikan kau ke tubuhmu juga memerlukan energi yang sangat besar, kau akan
merasa lelah sekali nanti, mungkin sedikit mati rasa karena kau, tenagamu yang
terkuras habis juga hari ini. Tapi kau tenang saja, itu hanya berlangsung
selama tiga hari, paling lama tujuh
hari. Itulah kenapa orang-orang yang terbangun dari koma seperti lumpuh. Jadi,
aku sarankan untuk kau makan yang banyak, tetapi tidak berlebihan. Mengerti?”
RinAh sekali lagi hanya mengangguk. Tidak terlalu
serius mendengarkan celotehan perempuan itu.
Melupakan kehidupan yang sekarang?
Entah mengapa, hatinya terasa remuk. Melupakan kehidupannya
sekarang, berarti melupakan Kyuhyun juga. Melupakan pertemanannya, melupakan
bahwa ia pernah mengenal baik seorang penyanyi terkenal itu? Perasaan tidak
enak itu muncul sekektika, membuat nyeri di hatinya, menumbuhkan sebuah rasa
kecewa pada diri RinAh.
“RinAh-ssi?”
RinAh mendongak menatap perempuan itu. “Ne,
arasseo.”
“Baguslah. Aku juga tidak tahu bagaimana
mengatakannya ya. Tapi, yah. Semoga kau nanti bisa mengingatku meskipun kemungkinannya
kecil sih. Eh, kau kenapa?”
“Aniya, gwenchanha..”
“Oh begitu. Ayolah, semangat. Aku tahu kau lelah,
nanti kubantu. Sekarang kita harus ke kamarmu.”
“Kamar? Maksudmu? Sebentar.. jangan-jangan tubuhku
ada di rumah sakit ini?”
“Itu benar! Hahaha”
“Apa-apaan nih. Serius deh kenapa kau tidak
mengatakannya dari tadi?!”
“aku pikir kau sudah tahu.”
“Cih.. hey, aku sudah beberapa kali berurusan
denganmu, tapi tidak pernah mnegetahui namamu.”
“Hahaha. Sudah kubilang aku yang kau lihat sekarang
ini hanya pencintraanmu saja. Aku juga tidak mengerti mengapa kau memilih
seorang gadis cantik untukku, tapi toh itu tidak ada gunanya. Tau gak? Aku
pernah menjadi seorang laki-laki besar, seram dan jelek sekali. Kau tahu kan,
suaraku berubah drastis menjadi besar dan berat. Dan sejujurnya aku juga tidak
menyukainya sih haha. Dan asal kau tahu, aku pun masih belum mengerti bagaimana
cara kerjanya hahaha. Imanjinasi manusia memang tidak pernah bisa ditebak.”
“ah benarkah? Em.. mungkin karena kau mirip
seseorang yang penting di hidupku mungkin? Yasudahlah.. nama apa yang cocok untukmu...
Em, Ha-Neul. Ha-neul.. oke. Aku panggil kau Haneul.”
“Ha.. neul?” tanyanya selidik. Sedikit menyiratkan
‘hey, kenapa harus nama itu?’
“Iya.. menurutku cocok. Cantik. Seperti sosok kau
yang sekarang” jawab RinAh sedikit bersemangat.
Mereka melanjutkan perjalanan mereka. Hingga
akhirnya mereka berdua tiba di sebuah kamar dengan nomor 306 yang berada di
lantai 4. Pantas saja. Tadi, RinAh belum sampai lantai ini untuk mencari
tubuhnya.
“Haneul-ssi..” panggil RinAh
“Ne? Kenapa? Kau takut?”
“Eo.. geurae. Aku takut. Aku takut sekali juga
grogi..”
“Grogi? Kenapa harus grogi? Takut kalau ternyata
rupamu yang sekarang tidak sama dengan rupa tubuh aslimu? Hahaha, itu tidak
mungkin. Oke? Jadi tenanglah sedikit. Kalau kau takut, itu akan mempersulitku
membantumu.”
“Tunggu sebentar. Banyak hal yang harus aku tanyakan
padamu. Setidaknya sebelum ingatanku hilang untuk yang sekarang.”
“Tidak. Tidak ada pertanyaan. Itu dilarang.”
“Oh ayolah..”
“Aku bilang tidak. ”
“Jebal... Haneul-ssi jebal.. Haneul-ssi kalau kau
mau menjawab pertanyaan-pertanyaanku.. tidak, tidak. Satu saja. Kau akan
terlihat sangat cantik. Beneran deh. Ya ya ya?”
“Cih. Bukankah kau sendiri yang membuatku cantik?
Hahaha. Tidak. Ayo, cepat masuk.” Ha-neul menarik tangan RinAh untuk masuk ke
kamar tersebut.
“Haneul-ssi.. kenapa aku diizinkan untuk hidup
kembali tanpa mendapat bantuan dari seorang pun?”
“Anak ini.. susah sekali ya.
“Itu karena.. bosku melihat bahwa semangat hidupmu
memang besar. Dan dia juga bilang, bahwa takdirmu sangat indah nantinya. Jadi
dia membiarkan dirimu utnuk hidup. Mengerti?”
“Baiklah. Meskipun aku akan melupakan seluruh
kenanganku saat aku menjadi arwah.”
“Meskipun kau kehilangan seluruh memorimu saat ini.
Percayalah padaku”
“Juga soal Kyuhyun?”
“hey.. kenapa kau tiba-tiba bertanya soal Kyuhyun?
Ah, aku tahu. Kau menyukai Kyuhyun ya, RinAh-ssi? Benar kan? Aku sudah
menduganya dari tadi. Dari raut wajahmu, dari sikapmu yag tidak begitu senang
ketika aku tawarkan ingin hidup kembali. Dari ketakutanmu itu. Iya kan, kau
takut kau lupa pada Kyuhyun. Kau takut memorimu akan Kyuhyun akan terhapus
begitu saja. Benar kan?”
“Keugae.. Itu benar. Aku memang menyukainya. Tapi
bahkan dia pun tidak pernah peduli padaku sih sebenarnya. Hanya saja, agak
berat meninggalkan orang yang kau sayangi bukan?”
“Aku tidak tahu. Aku kan bukan manusia.”
“Ah, iya ya.. aku lupa! Jadi percuma saja aku
bertanya padamu.”
“Memang percuma. Jadi, bagaimana? Kau masih mau
kembali ke tubuhmu atau mau tetap seperti ini? Karena setelah hari ini, kau
bukan tanggung jawabku lagi. Kau akan jadi bagian dari mereka.”
“Mereka?”
“Iya, mereka. Mereka yang jiwa dan tubuhnya
terpisah. Tetapi tidak pernah bisa kembali. Mereka yang bahkan tidak bisa
dikatakan mati ataupun hidup. Mereka yang kau sebut koma tapi tidak pernah
sadar. Selamanya. Kalaupun keluarga mereka melepaskan mereka dan memilih untuk
memakamkan mereka, tetapi tetap saja. Mereka tidak bisa kemanapun. Mereka akan
selalu tersesat di dunia ini.”
“Kenapa hal itu bisa terjadi?” tanya RinAh setengah
bergidik ngeri.
“Salah satu alasannya ya seperti kau saat ini.
Tetapi kebanyakan mereka memilih seperti itu padahal aku dan rekanku yang lain
sudah memperingatkan mereka. Tapi mereka tidak mengindahkannya.”
“Kenapa kau memberitahuku?”
“Oh, entahlah. Aku merasa perlu memberitahumu.”
“Baiklah..”
“Baiklah?”
“Aku mau kembali ke tubuhku.”
*
Ruangan itu terasa hangat. Hangat karena penghangat
ruangan yang menyala juga karena terdapat kenyamanan yang luar biasa di ruangan
itu. Kamar tempat tubuh RinAh berada. Di
sudut ruang, terdapat seorang wanita paruh baya yang sedang tidur di sebuah
ranjang kecil yang disediakan rumah sakit tersebut, juga seorang wanita cantik
yang masih muda. Raut wajahnya mirip dengan Ha-neul. Menemani wanita paruh baya
itu tidur.
Mungkin mereka
adalah ibu dan kakak perempuanku. Batin RinAh
Di samping tempat tidur, seorang laki-laki paruh
baya –yang RinAh duga itu adalah ayahnya– tidur menemani RinAh. Juga seorang
laki-laki muda cukup tampan, sepertinya itu adalah kakak laki-lakinya, sedang
berdoa, mendoakan dirinya.
RinAh terperangah melihat semua ini. Ia sangat
terharu melihat seluruh keluarganya selalu menemaninya. Akhirnya, untk pertama
kalinya sejak ia menjadi arwah, ia merasa kalau ia tidak sendirian. Ia sangat
bahagia dan tidak sabar untuk kembali ke tubuhnya dan kembali bersama mereka.
Dan melupakan Kyuhyun. Itu pasti.
“Sepertinya dugaanmu memang benar. Aku dan wanita di
sana sangat mirip” ucap Haneul
“Sepertinya..”
“Jadi, apa kau sudah siap?”
RinAh mengangguk.
“Baiklah, kita akan mulai semua ini. Ingat, ini akan
menguras tenangamu. Juga tenagaku. Kita mulai.”
Haneul menutup matanya, mencoba berkonsentrasi.
RinAh berada di sebelah tubuhnya. Satu tangannya berada diatas tangannya
sedangkan tangan lainnya meraih tangan Haneul. Ada sedikit getaran listrik yang
RinAh rasakan ketika ia menggenggam tangan Haneul. Ia tidak tahu apa yang Haneul
lakukan karena matanya sendiri pun tertutup. Semakin lama getaran itu semakin
cepat dan sedikit mengguncang tubuh arwahnya, semakin cepat hingga ia tidak
berani membuka matanya tetapi ia tahu bahwa ia akan baik-baik saja dan ini akan
segera berakhir.
“Dengar, RinAh-ssi. Energimu dan energi yang
tersimpan di tubuhmu akan segera menyatu. Dan ketika getaran ini semakin melambat
dan berhenti total. Kau sudah berada di tubuhmu. Kau akan kembali.”
RinAh sekali lagi mengangguk.
Getaran listrik itu sedikit menyakiti RinAh. Satu
menit, dua menit, tiga menit.. RinAh bahkan tidak bisa merasakan kembali
tubuhnya, arwahnya, bahkan ia tidak bisa merasakan bahwa dirinya menginjak
bumi. Seperti mati rasa. Apakah ini yang
dimaksud dengan mati rasa? Rasanya seperti melayang tidak keruan RinAh
mengerang, ia lemas. Ia lelah. Sangat lelah. Getaran listrik itu ternyata
menyerap secara terus-menerus tenaga RinAh hingga membuatnya tidak berdaya.
Membuatnya kehilangan kendali atas tubuhnya. RinAh tidak sanggup lagi. Tidak
sanggup, ia harus menghentikannya sekarang juga. Tapi, ia tetap memercayai
Haneul. Hingga akhirnya, getaran itu mulai melambat. Melambat perlahan-lahan.
Mengembalikan ia pada dirinya. Tetapi justru RinAh semakin merasa kehilangan
tubuhnya. Merasa kaku. Dan getaran itu hilang. Menyisakan sedikit rasa sakit di
dada dan pemandangan yang kabur.. hingga
kemudian gelap. Tetapi ia sempat mendengar suara Haneul.
“Selamat, RinAh. Kau kembali. Selamat tinggal.”
*
RinAh membuka matanya perlahan, mencoba mendapati
fokus matanya agar pemandangan yang dilihatnya tidak kabur lagi. Mencoba
menggerakkan tangannya sedikit demi sedikit. Ia mengerjapkan matanya sekali,
dua kali, dan menoleh sedikit ketika seorang gadis cantik yang sangat ia
sayangi menghampiri tubuhnya. RinAh tersenyum.
“Shin RinAh.. kau sudah sadar. Kau sudah sadar.
Eomma, Appa, JongIn-ssi. RinAh sudah sadar.”
“Eonni-ah.. Aku di mana?”
“Kau di rumah sakit, sayang. Sudah ya, jangan banyak
bertanya dulu. Aku harus memanggil dokter dulu, memberitahumu bahwa kau sudah
sadar.”
“RinAh sayang.. akhirnya kau sadar juga, Nak. Appa
sangat mengkhawatirkanmu.”
“Terima kasih, appa. RinAh sayang appa.”
Laki-laki bernama JongIn pun langsung menghampiri
RinAh. RinAh menyunggingkan senyum lebar melihat wajahnya. Melihatnya
menggenggam erat tangan RinAh, membuat RinAh merasa tentram.
“Aku sangat mengkhawatirkanmu, RinAh-ssi.” Ucap
JongIn
“Maafkan aku. Aku tidak akan membuatmu khawatir
lagi.”
“Sst.. jangan banyak bicara dulu, oke. Saranghae,
RinAh-ssi.” Dan mendaratkan bibirnya di kening RinAh. RinAh memejamkan matanya,
dan mengatakan
“Nado saranghae, JongIn-ssi.”
*
Kyuhyun mondar-mandir di apartemennya. Seperti
mencoba mengingat-ingat dan mencari sesuatu yang hilang. Tidak biasanya ia
terlihat seperti itu. Membuat hyeong-hyeongnya menatapnya curiga.
“Kyuhyun-ah. Kau kebelet pipis?” tanya Eunhyuk
setengah meledek, membuat ia ditertawakan oleh member Super Junior lainnya.
“Ya, Eunhyuk-hyeong. Iya aku kebelet pipis banget. Kau
mau mengantarku?”
“Omo.. adik kecil kita ini manja sekali. hahaha”
“Hyeong, plis deh. Aku sedang menunggu seseorang.
Jadi jangan ngeledek lagi. Oke?”
“cupcucup. Siapa? Seorang gadiskah?” Siwon
menghampiri Kyuhyun. Memegang pundak Kyuhyun dan menyuruhnya berhenti
mondar-mandir. Agak risih juga sebenarnya melihat tingkah Kyuhyun hari ini.
“Lama-lama aku beneran bisa pipis di celana kalau
kalian seperti ini terus hyeong.. Aku pergi dulu deh.”
“Yah ngambek nih orang. Yaa, neo odi e gamnikkha?
(hei, kamu mau pergi ke mana?)” tanya Siwon.
“Aku mau mencari seseorang.”
“Siapa?”
“Seorang hantu.”
“Aigoo, adik kita ini tidak pernah serius kalau
ditanya”
*
RinAh-ssi.. kau
di mana.
Sungguh, aku
minta maaf padamu.
RinAh-ssi kau
bisa dengar aku tidak sekarang?
Karena biasanya
kau selalu hadir begitu aku membutuhkanmu. Dan sekarang kau menghilang begitu
saja.
Jeongmal..
Mianhae.
Kyuhyun terus-menerus bergumam dalam hati. Berharap,
untuk kesekian kalinya, RinAh menyadari bahwa kata-katanya ini tulus dan ia
benar-benar ingin minta maaf padanya.
RinAh-ssi.. kau
tidak pernah seperti ini sebelumnya. Kau benar-benar marahkah?
Kyuhyun bertanya dalam hati. Kali ini, Kyuhyun sadar. Bahwa RinAh memang sangat
berarti untuknya.
“Haaah. Jadi, ke mana lagi aku harus mencarimu,
RinAh-ssi. Karena aku benar-benar merindukanmu sekarang.”
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar